Disisi lain, kawan-kawan aktivis juga terjebak dalam eksistensi kelompok yang semakin tidak jelas। Forkot menuntut di Bentuk KRI (Komite Rakyat Indonesia) yang di ilhami pasal …. UUD 1945, yaitu KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat), tentu dengan berbagai penyesuaian sesuai dengan kebutuhan zaman dan kalkulasi Subjektif gerakan serta kalkulasi Objektif Rakyat dan negara. Sementara FKSMJ punya tuntutan PN (Presidium Nasional), Komrad dengan DR (Dewan Rakyat), Front Jakarta, Gempur dan Famred dengan SR (Sidang Rakyat), Ada juga yang menuntut (PP) Pemerintahan Presidium. Semua berlomba mengkampanyekan Nama dan Slogan dari tuntutan Komite masing-masing. Lucunya, jika diperiksa dengan baik, maka baik KRI, Presidium Nasional, Dewan Rakyat dan Sidang Rakyat maupun Pemerintahan Presidium ternyata punya esensi, bentuk, sifat dan tujuan yang bisa dikatakan 99 % sama dan serupa. Pertama, KRI, PN, DR, SR dan PP, sama-sama menuntut pemerintahan yang secara struktur berbentuk kolektif (Presidium)। Kedua, semua bersifat Ad Hoc (sementera) dan Transisional. Ketiga, Semuanya bertugas, Melaksanakan Pemilu dengan Syarat-syarat yang juga sama. Nah pembeda utama dari tuntutan-tuntuan itu hanyalah Nama dan siapa Kelompok yang menuntutnya, diluar itu tidak ada.
Hari ini Forkot aksi dengan KRI, Besok, Famred, Front Jakarta dan Gempur aksi menuntut Sidang Rakyat, Lusanya, Komrad aksi dengan tuntutan Dewan Rakyat, hari berikutnya FKSMJ aksi dengan tuntutan Presidium Nasional। Lalu ketika semua kelompok ini bertemu, kita berdiskusi, berdebat dan sama-sama tahu dan sadar bahwa kita semua punya tuntutan yang sama, selesai pertemuan masing-masing lakukan aksi dan kembali lagi menyerukan kemasan yan berbeda-beda, walaupun isinya sama persis.
Seperti biasa, setelah Rapat Forkot, aku ngobrol di Posko dengan kawan-kawan dari beberapa kampus, saat itu selain Aku juga ada Eli dari ISTN, ada Lutfi dari Aba-Abi dan kawan-kawan dari KM UKI. Aku lontarkan Ide, tentang membuat konsolidasi nasional semua kelompok aktivis Mahasiswa di Indonesia. Baik Eli maupun Lutfi setuju dengan Ide itu tapi kami berrtiga masih bingung bagaimana pendanaan, siapa saja penyelenggara, kapan, dimana dan sebagainya sampai apa nama Konsolidasinya. Setelah ngobrol ngalor ngidul untuk mengelaborasi ide itu akhirnya Lutfi menawarkan pertemuan itu di namakan Rembuk saja agar tidak terkesan Formal dan “menakutkan”. Benar juga sih, aktivis jalanan macam kami memang seringkali agak alergi dengan yang berbau formal-formalan. Eli menyanggupi untuk gerilya dan meyakinkan kawan-kawan Organ Mahasiswa lain yang saat itu beraliansi di Komite Mahasiswa Bersatu (KMB). Sedang aku menawarkan agar Tempat pelaksanaan di Bali saja. Aktivis-aktivis Bali dalam peta pergerakan dianggap lebih Netral dan lebih akomodatif terhadap ide-ide. Selain itu, Bali juga secara letak geografis berada di tengah Indonesia. Faktor lain adalah karena Bali dengan potensi wisatanyanya punya daya tarik untuk memastikan kawan-kawan hadir. Selain itu juga karena Aku punya kedekatan lebih dengan kawan-kawan Bali dan percaya mereka bisa bekerja serta mau jadi tuan rumah.
KE BALI NAIK KERETA BARANG
Singkat cerita, Forum KMB menyetujui Agenda itu dengan beberapa kesepakatan. Pertama, Bendahara dari Jakarta. Kedua, masing-masing Organ mendapatkan 5 Proposal untuk penggalangan dana dan akan menyetorkan hasilnya pada kepanitiaan. Dalam hal ini Perjuangan Eli untuk mati-matian memperjuangkan ide itu di forum KMB aku hargai, he he he itu perjuangan berat karena saat itu di KMB ada sentimen anti Forkot yang cukup kuat. Sementara itu Lutfi dengan gaya nya yang suka Janji memberi harapan bahwa dia bisa mencarikan dana untuk acara ini. Hmmm aku tahu Lutfi biasanya ngibul tapi ya sudahlah memang dia selalu menggampangkan masalah. Kalau Aku, Iin, Noel, Ires dan Mahasiswa UKI yang diminta mendampingi Aku 24 Jam yaitu Mariole, berangkat ke Bali untuk berbicara dengan kawan-kawan Bali. Kami berangkat dengan Modal sekitar Rp 1,5 juta dari sisa anggaran Pelatihan Solidaritas Pemuda Pelajar Jakarta (SPPJ) yang ada di rekening Noel.
Hitung punya hitung Uang Rp 1,5 juta untuk 5 orang ke Bali tentu sangat pas-pasan। Kalau setiap orang dari kami rata-rata menghabiskan per hari Rp 15 ribu untuk makan dan minum maka tiap hari kami harus siapkan minimal Rp 75 ribu. Ongkos kereta ke Surabaya yang paling murah Rp 9 ribu. Dari Stasiun ke Terminal antar kota perorang Rp 2 ribu Dari Surabaya ke Banyuwangi per orang Rp 18 ribu. Dari banyuwangi ke Pelabuhan per orang Rp 3 ribu, Naik Feri menyebrang ke Gilimanuk Per Orang Rp 5 ribu. Dari Gilimanuk ke Denpasar sekitar 12 ribu maka untuk sampai Denpasar. Dari Terminal Denpasar ke Udayana per orang Rp 3 ribu kami perlu uang paling tidak Rp 47 ribu x 5 orang = Rp 250.000,- ditambah biaya makan 3 hari Rp 225.000,- jadi sampai Denpasar minimal kami perlu Rp 475.000,- Kalau dengan perkiraan anggaran yang sama yag akan kami habiskan untuk pulang ke Jakarta maka paling minimal kami harus sisihkan Rp 1 juta untuk ongkos PP. berarti kami masih punya Rp 500 ribu untuk berbagai kebutuhan lain. Huh…. Bicara 220 Juta Rakyat dan 13 ribu pulau dengan modal Rp 1,5 juta. Apa bukan mimpi tuh! Tapi sekesal apapun, kami harus tetap berangkat. Tuhan beserta kita. Sampai hari keberangkatan, seperti bisa diduga, Lutfi hanya kasih Dongeng tentang indahnya Bali pada kami.
Malam, dengan kereta Parcel kami berangkat dari Jatinegara menuju Surabaya। Kereta Parcel adalah kereta paling murah yang bisa kami dapatkan. Total jumlah gerbong dari kereta yang kami naiki ada 9 Gerbong dan satu lokomotif. 8 dari sembilan gerbong itu adalah gerbong barang. He he he sudah terbayang lamanya perjalanan yang akan kami tempuh. Untuk menghindari dingin, kami tidur dilantai dibawah kursi penumpang, maklum semua jendela kacanya sudah pecah, tidak ada penghalang apapun untuk angin masuk. Dinginnya malam menusuk kulit kami.
Setelah menempuh perjalanan lebih dari 24 jam, akhirnya kami sampai di stasiun pasar turi Surabaya। Kondisi fisiku sangat lemah, aku muntah berkali-kali. Kami memutuskan untuk menginap satu malam di Surabaya. Kami mencari penginapan paling murah, Rp 28.000 perkamar / malam. Malam ini, seluruh badan dikeroki lalu dipijat bergantian oleh Mariole dan Noel. Keesokan harinya pukul 11 setelah makan, kami lanjutkan perjalanan ke Terminal Antar Kota bungur asih, naik bis ke Banyuwangi, lalu disambung ke Penyeberangan. Setelah menyebrang dengan Feri sekitar 1 jam, sekitar pukul 21 akhirnya kami sampai di Gilimanuk.
Waduh, bis ke Denpasar sudah tidak ada. Ada penyewaan Taksi Gelap, tapi harganya sangat mahal. Uang kami sisa Rp 900 ribuan. Setelah bingung beberapa lama, kami putuskan untuk menumpang mobil apa saja yang ke arah Denpasar. Dari puluhan truk, mobil pribadi maupun kendaraan pengangkut barang, tidak ada yang bersedia kami tumpangi. Hmmm wajar, mereka mungkin takut. Setelah menghilang sekitar 10 menit, Noel datang dan menghampiri aku. Dia bawa kabar gembira. “ada mobil yang mau kita tumpangi ke Denpasar! Gratis!” ucap Noel. Hampir serentak kami bertanya “Dimana, Mobil apa?” tidak lama kemudian Mobil yang dimaksud Noel datang. Ambulans. Setelah naik ke Ambulans barulah kami tahu dari Supirnya kalau Ambulans itu baru mengantar Jenazah ke Surabaya. Aroma Formalin dan Obat memenuhi ruang belakang Mobil. Disana-sini masih tampak helai-helai kapas dan bercak-bercak hitam seperti darah kering. Dalam hati aku berucap, “Demi Rakyat!”
MEMBENTUK PANITIA REMBUK
Kami akhirnya sampai juga ke posko kawan-kawan Pospera। Kawan-kawan menyambut hangat, lalu kami berbagi cerita tentang beragam informasi, peristiwa, sikap para elit yang plin plan, dan hal hal lain. Pembicaraan kemudian dilanjutkan dengan menyampaikan maksud menyampaikan tawaran kawan-kawan Jakarta untuk meminta Bali menjadi Fasilitator pertemuan Mahasiswa se Indonesia. Secara prinsip, kawan-kawan Bali setuju dan siap. Yang perlu dirumuskan adalah teknis persiapan menuju Acara. Akhirnya kami sepakati bahwa penyelanggara Acara terdiri dari 3 kota, yaitu Jakarta, Bandung dan Bali. Jakarta diwakili Dion dari Gunadarma sebagai Bendahara, Bandung diwakili Ferdi sebagai Sekretaris dan Bali diwakili Mashadi sebagai ketua Panitia. Sementara struktur kepanitian lainnya dibentuk dan disusun oleh kawan-kawan Bali. Menjelang subuh badan sudah terasa retak-ratak dan akhirnya kami memutuskan untuk istirahat…. Ohh akhirnya tidur juga.
Keesokan Harinya, Noel dan Ires menghilang। Katanya sih mau ke Kuta. Aku, Iin dan Mariole ke Cosma Universitas Udayana dan kembali mematangkan ide dengan kawan-kawan Bali. Saat itu ada Adolf, Oktaf, Gepeng, Taya, Gendo dan banyak lagi. Menjelang sore, kami sepakati untuk mengadakan pertemuan itu pada tanggal 28 Maret s/d 1 April 1999. Aku, Adolf, Gendo dan Oktaf merumuskan garis-garis besar Proposal. Malam itu juga Proposal jadi dan segera di Print lalu digandakan sekitar 100 buah.
Hari ke tiga, kami ke Supermarket Alfa dan dengan modal Rp 150।000 membeli alat-alat tulis. Setelah itu kembali ke Cosma Udayana dan bersama kawan-kawan Bali kami menjilid Proposal-proposal itu. Selesai menjilid Propsal, kami membicarakan pembagian undangan peserta. Kami sepakati bahwa Jakarta mengundang Jabotabek, Kalimantan dan Sumatera. Bali mengundang Jawa Tengah, Jawa Timur, NTT, NTB, Timor-timor dan Papua. Bandung mengundang Jawa Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Maluku. Semua undangan harus diantar langsung ketiap Kota dan wajib sampai ke Organisasinya langsung. Selesai pembagian wilayah pengundangan, kawan-kawan Bali membuat undangannya untuk dibawa langsung ketiap kota.
Mendistribusikan undangan ini bukan tugas ringan. Karena di beberapa wilayah kami tidak punya kontak person. Untuk itu mau tidak mau kami harus mencari Organisasi apa saja dan siapa orang-orangnya yang terlibat langsung saat gerakan 1998. Apa iya, kita dari Pendanaan hingga Peserta dan Teknis lainnya bisa diselesaikan dalam waktu tidak sampai 3 bulan? Ini kerja gila, apalagi kami masing-masing tidak punya uang serupiah pun untuk ongkos keliling ke 27 Propinsi dalam waktu 30 hari.
KEMBALI KE JAKARTA
Hari ke lima kami pulang ke jakarta। Sehari setelah di Jakarta, aku datang ke Forum KMB dan mensosialisasikan apa yang disepakati di Bali. Selain itu aku juga membagikan 5 proposal kesetiap Organ yang terlibat di KMB. Saat itu selain Forkot ada Front Jakarta, Gempur, Fima Gunadarma, Famred, FKSMJ, GEMA IPB, KB UI dan KOMRAD, KAMTRI Jadi total Jenderal, ada sekitar 50 Proposal yang dipegang Oleh Jakarta. Bandung juga pegang sekitar 20 Proposal. Sementara Bali mendapat sisanya. Kalau berangkat dari jumlah Proposal dan berandai-andai setiap Proposal itu menghasilkan Rp 1 Juta maka paling tidak panitia punya dana Rp 100 juta. Angka itu sepertinya cukup untuk melaksanakan pertemuan.
Singkat cerita, undangan telah disistrubusikan. Tentu dengan segala macam dinamika. Selesai keliling kalimantan selama 6 hari, aku segera kembali ke Jakarta untuk persiapan teknis pelaksanaan. Kawan-kawan Bali meminta semua Propaganda acara di cetak di Jakarta karena biayanya jauh lebih murah. He he he cetak mencetak itu bidang ku. Dari tahun 95 aku sudah derhubungan dengan sablon dan cetak mencetak (Baca Kesaksian Hari Itu tanggal dua puluh tujuh). Aku mencetak puluhan ribu Leaflet, Spanduk dan segala macam materi propaganda Acara. Seperti biasa, Propaganda kemudian kami bagikan juga ke kampus-kampus dan warga Jakarta secara terbuka.
MENGUMPULKAN UANG UNTUK REMBUK
Masalah muncul karena dari 50 Proposal yang diberikan untuk Organ-organ di Jakarta, hanya Forkot yang menyetorkan hasil penggalangan Dana। Organ-organ lain tidak menyetorkan satu rupiah pun, lucunya, proposal pun tidak dikembalikan. Aku kesal sekali, sepertinya karena Forkot yang punya ide maka Forkot lah yang harus menanggung semua pendanaan. Kalau memang seperti itu, harusnya kan dibicarakan sejak awal sehingga semua Proposal itu kami yang distribusikan. Segala macam alasan disampaikan kawan-kawan dari berbagai Organ lain. Dalam salah satu pertemuan, aku sempat hampir meledak. Untunglah Eli menyabarkan aku dengan mengingatkan bahwa apapun masalahnya, Konsolidasi ini harus tetap berjalan. Memang kami di Forkot sadar betul bahwa kalau Acara Konsolidasi ini berjalan dengan baik maka hari-hari berakhirnya pemerintahan Habibie bisa dihitung. Berikutnya Eli menyarankan agar aku lebih baik konsentrasi mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan persiapan acara dan biarkan dia yang mengkonsolidasikan KMB. Sepertinya itu memang saran yang logis.
Waktu acara tinggal 20 hari lagi। Konfirmasi peserta sudah ada 74 kota yang siap hadir. Uang belum ada serupiah pun yang masuk, Kawan-kawan Panitia dan kawan-kawn Bali sudah mulai Panik. Aku berusaha menenangkan dengan segala macam penjelasan. Disisi lain aku juga mengupayakan dengan segala macam cara agar Uang bisa terkumpul. Rupiah demi rupiah aku kumpulkan dari berbagai orang, ada dosen, ada NGO dan sebagainya. Repotnya, orang-orang yang aku kenal dan mendukung acara ini bukanlah dari latar belakang ekonomi yang berlebihan. Dari salah satu NGO aku dapat Rp 10 juta itupun lewat lobby yang cukup lama. Selain dari dari NGO itu ada sekitar 30 an senior aku yang juga ikut saweran dari Rp 300.000 sanpai Rp 1 juta. Dari senior-senior ini aku bisa kumpulkan sampai Rp 24 juta. Hampir tiap tiga hari aku mentransefer uang ke kawan-kawan Panitia di Bali.
Acara tinggal 5 hari lagi। Total aku sudah transfer Rp 34 juta. Kawan-kawan Bali dan Panitia masih panik walau tidak sepanik beberapa hari sebelumnya. Aku rencanakan berangkat ke Bali besok siang. Hari ini aku sudah beli Tiket kereta kelas bisnis ke Surabaya. Aku berdoa habis-habisan dalam hati agar ada lagi yang terketuk hatinya untuk membantu acara ini. Secara logika, sepertinya sudah tidak ada lagi gambaran dana akan masuk. Sampai pukul 19 WIB tidak ada kabar gembira. Sebenarnya masih ada 1 proposal lagi yang belum di jawab. Tapi aku sudah tidak berharap karena Senior yang pegang Proposal itu tidak mau angkat Hand Phone setiap aku hubungi. Aku sudah pasrah dan mulai memikirkan apa yang harus aku jelaskan pada kawan-kawan Bali dan Panitia. Apa mereka bisa percaya kalau dari 50 Proposal itu hanya 4 Proposal yang berhasil? Jangan-jangan mereka fikir aku berbohong dan mengambil keuntungan dari 46 Proposal yang lain.
Aku sudah melipat 2 pasang celana dan baju dan memasukkannya dalam tas ransel coklat yang setia menemani aku dalam 3 tahun terakhir। Itu semua harta yang aku miliki. Dion, Bendahara Panitia representasi Jakarta dari FIMA Gunadarma menelpon aku dan dia katakan bahwa paling minimal Panitia perlu Rp 20 juta lagi. Aku coba menenangkan dan mengatakan bahwa ada beberapa orang yang janji akan transfer di hari Acara. Aku harus bohong agar Dion tenang. Bagaimanapun di representasi Jakarta, harus kami jaga agar dia tidak malu.
Pukul 20 WIB Hand Phone Iin yang aku pinjam berdering. Aku lihat nomor yang masuk, Wah… Senior yang aku titipkan 1 proposal menghubungi aku. Seniorku minta aku datang ke Citra Land jam 21. Aku sanggupi untuk datang. Yah mudah-mudahan ada 1 atau 2 juta tambahan untuk kawan-kawan Panitia. Pukul 21 aku ke Citra Land dengan sekitar 5 kawan-kawan dari KM UKI naik mobil operasional, toyota kijang doyok। Di Citra Land aku ketemu Seniorku disebuah tempat yang dia Booking, kemudian dia memperperkenalkan aku dengan sekitar 5 orang pengusaha etnis Tionghoa. Kami ngobrol-ngobrol ngalor ngidul sampai sekitar pukul 23. Huh…. Tidak ada sedikitpun pembicaraan tentang Proposal. Aku sudah agak suntuk dan putus asa. Berikutnya aku pamit dan bilang kalau aku besok akan berangkat ke Bali. Kami kemudian bersalaman dan tukar menukar nomor Hand Phone. Pasraaah…॥
Seniorku mengantar aku ke Lift. Sampai di Pintu Lift, ia mengambil Amplop coklat dari saku jaketnya dan Bilang, “Ini ada sedikit bantuan untuk kawan-kawan” aku ucapkan terima kasih dan dalam hati aku berucap”Wah, tebal juga nih”. Aku dan kawan-kawan kemudian kembali di Mobil Doyok. Dalam perjalanan pulang ke Posko Cawang, aku bicara dengan kawan-kawan tentang amplop yang diberikan Seniorku. Aku keluarkan Amplopnya dan kami bertaruh berapa jumlah uang di amplop itu. Yang menang dapat rokok satu bungkus. Tebakan kawan-kawan bermacam-macam tapi maksimal menebak Rp 10 juta. Setelah semua menyebutkan angka tebakannya, amplop aku buka pelan-pelan, lalu kami hitung satu-satu lembaran uang Rp 50 ribuan. Wah… sudah lebih dari Rp 10 juta …. Ternyata total semuanya ada Rp 20 juta! Yes!
KEMBALI KE BALI
Besoknya sebelum ke stasiun kereta, aku sempatkan diri mentransfer uang Rp 20 juta itu ke kawan-kawan Panitia. Kemudian aku telp Dion untuk kasih kabar kalau aku Transfer Rp 20 juta. He he he nada suara Dion terdengar sangat mantap dan penuh optimisme. Kemudian Aku dan Gepeng ke Stasiun kereta sambil membawa sekitar 40 kg kertas propaganda acara dan foto-foto aksi-aksi kami di Jakarta yang akan dipamerkan di kampus 2 hari sebelum acara.
Aku sampai Bali tepat dua hari sebelum Acara berlangsung। Aku kumpul dengan kawan-kawan panitia dan kami saling mempresentasikan apa saja yang sudah dikerjakan dan bagaimana persiapan teknis lainnya. Karena keterbatasan keuangan maka panitia memutuskan agar peserta di inapkan saja di kampus. Setelah berdiskusi sekitar 3 jam.Aku dan kawan-kawan Panitia ke Aula Udayana untuk menyusun foto-foto Pameran.
Keesokan harinya Pameran di buka, ada lebih dari 150 foto yang dipamerkan। Pers sudah mulai berdatangan untuk meliput pameran foto sekaligus konfrensi Pers Panitia tentang acara Pertemuan Mahasiswa se Indonesia. Menjelang sore, aku rapat bersama kawan-kawan panitia untuk mulai membagi tugas. Mulai dari penjemputan. Konsumsi dan sebagainya. Saat pertemuan masih berlangsung aku di telepon oleh seorang aktivis 70 an yang aktif di yayasan Padamu Negeri (YPN). Setahu aku, Yayasan ini punya Arifin Panigoro. Via telepon, aktivis YPN itu tanya ke aku apa yang bisa dia bantu. Aku minta waktu 15 menit untuk membicarakan itu pada Panitia. Setelah telepon dimatikan, aku membicarakan tawaran tadi pada kawan-kawan Panitia. Sebenarnya hampir semua kebutuhan Panitia telah tercukupi. Yang belum pasti adalah Konsumsi, itupun karena belum ada kecocokan anggaran. Panitia minta aku menyampaikan hal itu pada Aktivis YPN.
Yayasan Padamu Negeri menyanggupi membantu nasi bungkus untuk panitia dan peserta yaitu 200 orang untuk tiga kali makan selama 3 hari। Bantuan ini cukup meringankan beban Panitia karena kalau di Rupiahkan maka Konsumsi untuk 200 orang elama 3 hari mencapai 1800 bungkus nasi dan kalau tiap bungkus nasi itu harganya Rp 8 ribu maka untuk 1800 bungkus nasi Panitia bisa menghemat hampir Rp 15 juta. Ditengah keterbatasan Anggaran, bantuan itu sungguh sangat melegakan Panitia. Berikutnya Panitia menghubungi orang yang direkomendasikan YPN untuk mengurus Nasi Bungkus.
Besok Pertemuan di mulai। Kami perkirakan mulai sore hari ini, peserta sudah akan berdatangan. Kawan-kawan Jakarta satu persatu sudah mulai sampai di Udayana mulai pukul 14 WIB. FKSMJ, Famred, Gema IPB, Front Jak dan sebagainya. Aku senang ketika kawan-kawan Jakarta muulai berdatangan tapi disisi yang lain, aku juga kesal karena ternyata sebagian dari mereka bisa datang dari Jakarta naik Pesawat atau paling minimal naik Kereta Api Eksekutif. Lebih kesal lagi karena sebagian besar sudah booking penginapan dan hotel. Huh… waktu pertemuan di KMB semua pura-pura tidak punya uang, tidak bisa cari uang dan hingga detik ini tidak serupiah pun mereka setorkan ke panitia. Tapi ketika Acara sudah pasti berjalan, mereka berbondong-bondong datang dengan Pesawat dan menginap di Hotel. Yang lebih kesal lagi, mentang-mentang Organnya tergabung sebagai Panitia bersama, beberapa kawan dari Jakarta sok mengevaluasi kerja Panitia. Huh belum jadi apa-apa tapi gaya mereka sudah seperti elit politik! Memang aku gusar tapi Gepeg mengingatkan aku untuk terus bersabar karena besok acara akan dimulai dan aku tidak boleh marah-marah agar konsolidasi bisa berjalan baik. Gepeng dan Oktav mengingatkan aku bahwa Pertemuan ini dilakukan salah satunya adalah agar kawan-kawan yang gugur dengan gagah berani di Jogja, Lampung, Trisakti dan Semanggi tidak Gugur sia-sia! Demi konsolidasi! Demi Konsolidasi!
Peserta dari Papua, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi sudah mulai masuk ke Udayana. Panitia pontang panting mengurus registrasi mereka. Kasihan juga ya ngelihat panitia yang jungkir balik. Ada yang menjemput, ada yang jaga pameran foto, ada yang urus konsumsi, ada yang urus ijin ke kampus, ada yang ngawasi intel Tentara dan Polisi yang keluar masuk ruang pameran, ada yang urus urus wartawan yang tanya ini dan itu… wah panitia sibuk banget.
Tanggal 28 Maret pukul 10.00 WIB Rembuk Nasional Mahasiswa Indonesia I (RNMI I) dibuka oleh panitia. Peserta yang hadir lebih dari 150 orang dari sekitar 60 kota di Jawa, Bali, Sumatera, NTT, NTB, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Walaupun penuh perdebatan, ketegangan dan beragam dinamika lainnya tapi RNMI I yang berakhir tanggal 1 April sukses di laksanakan dan menjadi tonggak sejarah baru dalam perjalanan gerakan Pro Demokrasi di Indonesia. Salut dan hormat kepada kawan-kawan Bali khususnya Mashadi, Gendo, Gepeng, Adolf, Oktav, Taya dan sebagainya, jujga untuk kawan-kawn Bandung, Ferdi dan yang lain serta kawan-kawan Jakarta khususnya Dion dari Fima Gunadarma. Berikutnya Habibie akan berhadapan dengan seluruh Aktivis terbaik se Republik Indonesia! Venceremos Democratia!



2 komentar:
Kek ini Boboho Eks FKMB Bandung, mdhan masih kenal, oya selamat atas berdirinya pena 98. kek aku sekarang da balik kampung n disini ada sekitar 30 mantan 98, 10 orang bekas anak forkot, alfin (Bogor),bulek (Sumento) UI DLL Ya uda Keep Figting oya ni kontak gue 081929662292
Hallo Broda....
aku ekoz ...UGM 1989...dulu di SM UGM seangkatan anies rasyid baswedan...kalo sejarah awal-awal penumbangan Soeharto aku juga tau...ngerti juga si andi arief,sugeng bahagijo,Nezar patria dll...walau gak kenal akrab....
Selamat atas terbentuknya PENA 98 semoga jadi lokomotif reformasi yang sesungguhnya......
aku mo tanya apakah tulisan-tulisanmu udah ada yang dibukukan?...
aku senang dengan tulisanmu yang ini..tulisan gaya memoar memang aku paling suka...semoga dalam waktu dekat sejarah pergerakan aktivis 98 dah bisa dinikmati oleh kita....
sorry Bro dah pernah kirim tulisan untuk diterbitkan jadi buku ke resist Book gak?...
sekian dulu Bro...
aku usul ada buku tamu di blog ini
aku juga usul jangan pakek warna hitam...pening bacanya...maklum udah tua...yang lebih terang gitu...
aku selalu tunggu coment di Fsku...
hasta la victoria siempre
Posting Komentar