Ini sudah minggu ke tiga aku di desa Cibentang. Aku dan kawan-kawan mendampingi Warga Cibentang yang desanya akan dilintasi kabel Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). Warga menuntut agar seluruh tanah dan rumah yang dilintasi SUTET dibebaskan dan diberi ganti rugi.
3 minggu ini kami punya pekerjaan rutin. Mulai bangun tidur, mandi, makan lalu kumpul dengan anak-anak muda yang putus sekolah dan tidak bekerja, ngobrol-ngobrol, diskusi atau sekedar main catur, main gitar atau jalan-jalan dipematang sawah. Sekitar pukul 11 kami biasanya sudah berkeliling ke 2 atau 3 rumah warga yang baru pulang dari sawah dan kebun, lalu berdiskusi dengan mereka. Jam 12 atau jam 1 biasanya kami makan siang di sumah warga. Jam 14 an kami sudah pindah ke rumah warga yang lain. Pukul 20 sampai pukul 22 kami diskusi dengan warga di rumah Koordinator warga. Rata-rata tiap malam setelah 15 sampai 20 warga berkumpul, maka diskusi segera dibuka oleh koordinator. Kami kemudian menjelaskan hak-hak warga, bahaya tegangan tinggi, apa itu aksi dan sebagainya. Berikutnya tanya jawab tentang segala hal berkaitan dengan SUTET dan hak atas tanah serta status hukum tanah warga. Selesai diskusi, aku berkumpul dengan anak-anak muda dan biasanyanya kami jalan-jalan mencari dimana ada orang menikah…. Bukan untuk ngintip tapi nonton hiburan yang biasanya di adakan oleh keluarga pengantin. Yang paling assyik kalau ada layar tancap atau dangdutan, yang bikin capek kalau salah satu pasangan dari suku Jawa, karena biasanya nanggap wayang.
Tower SUTET 500 KV sudah berdiri gagah ditengah sawah desa Cibentang. Di wilayah parung masih ada sekitar 8 Tower yang belum dipasang kabel. Perlawanan warga yang begitu gigih telah membuat pemasangan kabel tertunda lebih dari 3 bulan dari jadwal seharusnya. Hari ini, ada informasi bahwa PLN akan datang lagi. Mulai dari anak-anak, remaja, bapak-bapak dan para ibu sudah bersiap-siap menyambut kedatangan PLN dengan demonstrasi.
Siang itu, beberapa kawan Aktivis mahasiswa pulang ke Jakarta. Aku hanya bertiga dengan Yayan dan salah seorang mahasiswa baru. Sekitar pukul 13 WIB, seorang anak kecil melaju cepat dengan sepedanya menuju rumah warga tempat kami berkumpul. Anak itu katakan bahwa dia ngebut memotong jalan lewat pematang-pematang sawah untuk menyampaikan apa yang dilihatnya bahwa ada sekitar 3 truk Polisi dan sekitar 4 mobil PLN serta mobil-mobil Kontraktornya dari PT Bukaka, yang sedang mengarah ke Cibentang. Mendengar informasi itu kami berembug bersama warga. Tidak berapa lama kemudian warga berpencar dan segera disusul dengan bunyi kentongan bersahutan sebagai tanda Aparat dan PLN sudah datang.
Kami bertiga bersama dengan belasan warga berjalan cepat mengambil jalur pintas melewati kebun dan sawah untuk sesegera mungkin mencapai lokasi Tower yang akan di pasangi kabel. Kedatangan kami hanya selisih beberapa menit dengan kedatangan sekitar 150 an aparat polisi bersenjata tameng rotan yang dialiri stroom, pentungan dan belasan senjata laras panjang serta tak terhitung senjata api laras pendek.
Upaya negosiasi sudah bisa dipastikan tidak mungkin ada hasil. Tapi bagaimanapun harus tetap dicoba. Aku coba bernegosiasi agar kabel tidak ditarik hari ini dengan argumentasi bahwa proses hukum atas tuntutan warga sedang dalam proses pengadilan. Dengan demikian maka seharusnya Polisi sebagai penegak hukum menghormati proses hukum dengan tidak melakukan tindakan apapun sampai ada keputusan hukum tetap. Sang komandan lapangan dari Polisi, Cuma katakan singkat “ini perintah!” lalu segera ia menyiapkan aba-aba agar pasukan bersiap. Darahku mendesir, disekililingku ada lebih dari seratus aparat polisi, ratusan warga dan puluhan karyawan PLN serta Bukaka, tidak ada pers, tidak ada siapa-siapa selain dua kelompok yang berhadap-hadapan ditengah rumput dan pepohonan.
Selang beberapa waktu, di pematang sawah sudah terjadi tarik menarik kabel antara warga dengan karyawan PLN, Bukaka serta puluhan aparat Polisi. Tarik menarik terjadi sekitar 10 menit, lalu Komandan lapangan Polisi mengisyaratkan agar kabel dilepas, seketika itu juga ratusan warga di sisi kabel yang lain, terjatuh-jatuh ke lumpur-lumpur sawah. Berikutnya aparat polisi berbaris dan bergerk serentak mendekati warga yang kocar-kacir. Formasi Polisi berubah menjadi Formasi mengepung setengah lingkaran berlapis tiga. Warga kemudian kembali berkumpul dan saling bergandengan tangan menghadang langkah aparat. Aku masih coba melakukan Negosiasi dengan berdiri ditengah antara Warga dan Polisi Tidak berapa lama, dari sebelah kiri Beberapa Polisi memukul salah seorang kordinator warga, Pak Uan. Blam!.. Pak Uan yang berbadan besar itu kemudian terjatuh dan pingsan. Suasana kemudian hening. Selang beberapa detik, dari sisi kanan, Yayan terhuyung-huyung lalu terjatuh sembari memegangi perutnya. Situasi kembali hening. Beberapa warga menggotong Pak Uan dan Yayan ke salah satu rumah terdekat. Kerumunan warga berangsur-angsur bubar dalam, hitungan detik. Aku duduk bersujud ditanah. Wajahku sejajar dengan deretan sepatu Lars dan polisi yang berdiri angkuh. Aku merasakan mataku panas dan berair, jantungku berdegap kencang, tanganku meremas tanah.
Dalam keheningan, tiba-tiba ada teriakan Allahu Akbar!! Allahu Akbar! Yang bersahutan. Aku berusah berdiri dengan lutut gemetar dan aku lihat ratusan warga kembali berdatangan dengan Golok, Cangkul, Linggis, Potongan kayu, Gergaji, Kampak dan berbagai alat-alat bertani dan berkebun ditangan masing-masing. Teriakan Allahu Akbar kemudian saling bersahutan dengan bunyi kentongan membuat warga datang berkumpul semakin banyak.
Aku melihat Polisi mundur sekitar 10 meter kemudian merubah Formasi menjadi berbanjar. Tameng-tameng juga disiapkan, senjata di kokang. Warga berjalan semakin dekat, semakin rapat dengan tangan yang memegang berbagai alat diacungkan tinggi-tinggi. Jarak antara aparat dan warga sekarang tinggal sekitar 6 meter. Aku tetap berdiri dantara Warga dan Polisi yang sudah berhadapan dengan senjata masing-masing. Komandan Polisi datang menghampiri aku, dan berkata dengan suara bergetar “Bagaimana ini pak?” aku hanya diam, jujur saja aku juga bingung menghadapi situasi yang seperti ini. Dalam pikiranku, beberapa menit kedepan pasti terjadi pertumpahan darah. Mungkin akan banyak warga yang gugur, tapi dari polisi juga pasti akan jatuh korban karena warga sudah mengepung dari kiri kanan depan dan belakang. Untuk kedua kalinya, Komandan polisi menanyakan hal yang sama, “Bagaimana ini pak?” sejenak aku tidak menjawab. Selanjutnya aku melihat ke wajah polisi itu dan dengan suara setengah berteriak aku menjawab “Saya tidak tahu…. Kalian yang inginkan ini! Sekarang saya tidak akan ikut campur, apapun yang terjadi ya terjadilah” aku kemudian membalikan punggungku bersiap tinggalkan arena. Tanganku ditarik oleh komandan polisi, dan dia menatap wajah ku “Tolong pak! Bagaimana ini?” ucapnya. Aku menjawab dengan tegas. “Kalau kalian tidak ingin pertumpahan darah, perintahkan pasukan mu menurunkan senjata dan tinggalkan tempat ini!” Sejenak aku bertatapan mata dengan komandan polisi itu. Berikutnya dia membalikan badan dan berjalan sekitar 3 meter kearah pasukan lalu dia memanggil tiga anak buahnya, berbicara sebentar dan berjalan pergi ke arah Mobil dinasnya. Dalam hitungan beberapa menit, seluruh pasukan polisi sudah menurukan senjatanya, lalu berbaris dan mundur ke arah jejeran truk tronton yang mengangkut mereka. Sementara para pekerja PLN dan Bukaka seketika menarik kabel-kabel ke kendaraan yang mereka bawa.
Saat mesin-mesin truk dan mobil dihidupakan, saat itu juga Ratusan warga bertepuk tangan dan berteriak Allahu Akbar! Allahu Akbar! kemudian Aku menghampiri warga dan berpelukan. Aku merasakan mata ku memanas dan ada butiran air mata yang menetes. Aku, menangis. Ini air mata pertama sejak Ayahku meninggal dunia.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar