18 MEI 1998
PENDUDUKAN DPR/MPR
Huh kalau dingat-ingat bagaimana gagasan menduduki DPR/MPR, kadang kesal dan gemas. Bagaimana tidak, kalau saja hal itu dilakukan lebih terencana, tentu aku boleh berharap ada sesuatu yang lebih yang bisa kita lakukan, tapi bagaimana mungkin itu menjadi rencana bersama jika ide itu saja ditolak oleh banyak kawan-kawan. hmm mungkin saja kemudian sejarah tidak terjadi seperti hari ini. Tapi ya sudahlah, tidak usah disesali. Walaupun tidak menyesali itu bukan berarti tidak boleh kesal toh kalau mengingat rangkaian peristiwa saat itu.
Memang tidak bisa dipungkiri jika saat itu ide menduduki DPR/MPR yang aku tawarkan di Forum FORKOT tidak semudah itu untuk disetujui. Bagiku, perdebatan terhadap ide-ide tentu sah-sah saja tapi yang menyebalkan ketika ide kemudian ditolak, di sanggah tanpa alasan yang jelas selain ketakutan, seperti yang selalu ditebarkan Syafik saat itu, “Lu mau terjadi Tianan Men?” lebih menyebalkan lagi ketika penolakan itu tidak diikuti oleh alternatif tawaran lain yang lebih realistis dan efektif.
SIKAP ELIT YANG PLIN PLAN
Padahal, aku berfikir sangat simple saat itu, pertama, menuju Akhir Desember 1997, gerakan terus membesar dan semakin massif di berbagai kota. Sementara para Elit politik tampak sangat plin plan. Bagaimana tidak, misalnya, ketika Aksi besar di UGM dan ada bendera Bintang Kejora berkibar, Gus Dur lalu bilang kalau Aksi Mahasiswa sudah tidak murni dan baiknya dihentikan. Huh memangnya perangkat organisasi aksi nya terdiri dari tentara yang terorganisir, berdisiplin dan taat komando. Gus Dur harusnya tahu dong kalo aksi-aksi itu digalang komite-komite aksi yang sangat cair, rentan konflik dan bertujuan awal untuk memperbesar barisan perlawanan walaupun dengan konsekuensi kontrol terhadap massa cair yang jadi peserta aksi menjadi sangat lemah. Dalam proses pembesaran gerakan, hal itu toh bisa dimaklumi apalagi dengan minimnya pengalaman aksi massa dalam jumlah besar dari para mahasiswa saat itu karena depolitisasi kampus yang terjadi 32 tahun dibawah rezim Soeharto.
Nah bayangkan, bagaimana kemudian kami harus jungkir balik untuk terus menyusun, mengkonsolidir kampus, massa dan aksi-aksi sementara para elit sesuka-sukanya berbicara dan tidak mau tahu bahwa pernyataan-pernyataan itu sungguh sangat membuat kami harus semakin jungkir balik dan terpaksa berakrobat sebisa mungkin agar pernyataan-pernyataan itu tidak memporakporandakan barisan yang sedang digalang.
Kedua, Aku berfikir bahwa antara Januari 1998 s/d April 1998 posisi Soeharto sedang menuju puncak kritis, ada tekanan internasional, ada kesulitan ekonomi, konflik di elit yang berkepanjangan dan gerakan aksi massa yang terus bergulir membesar. Tetapi walaupun demikian, kita tidak bisa menganggap remeh Soeharto dan think tank nya, mereka punya pengalaman 32 tahun mengelola dan merekayasa keadaan, mereka punya organisasi, mereka punya kontrol kuat terhadap media, mereka punya uang tak terhingga. Jadi kalau tidak segera dirumuskan pukulan-pukulan bernilai strategis maka mungkin dalam beberapa bulan kemudian keadaan akan kembali mampu di kontrol oleh Soeharto. Wah kalau itu terjadi, mau lari kemana kita? Aktivitas gerakan sudah sangat terang-terangan. Bagi para mahasiswa yang baru ikut-ikutan aksi dari tahun 1997 tentu gampang untuk lari bersembunyi atau menyangkal ketika ditangkap dan di interogasi. Elit politik juga tentu dengan mudah didiamkan karena memang watak mereka yang cenderung Pragmatis dan Oportunis. Tapi bagi aku yang sejak 1992 sudah menggalang aksi buruh di PT Total Group di Marunda dan terlibat dalam banyak demonstrasi, rapat-rapat anti Soeharto, Tragedi berdarah 27 Juli dan banyak lagi. Begitu juga dengan beberapa kawan-kawan lain yang punya sejarah perlawanan cukup panjang. Tentu tidak ada pilihan selain melawan sampai habis-habisan karena sudah tidak mungkin lagi bersembunyi, lari atau menyangkal. Nah kalau keadaan kemudian dapat terkontrol lagi oleh Soeharto, jangan anggap remeh, ingat, Soeharto pernah membantai sekitar 2 juta manusia di tahun 1965, jadi tentu maka bukan hal yang berat jika kemudian untuk tumbal kekuasaannya ia membantai lagi 2000 atau 3000 mahasiswa di berbagai kota ditahun ini. Lalu jika ketakutan itu terjadi, ampun bagaimana rasa bersalahku pada kawan-kawan, orang tua mereka dan pada sejarah. Jika itu terjadi mungkin aku tidak akan pernah memaafkan diriku.
Walaupun demikian, kami yakin bahwa sikap plin plan itu mendominasi para elit karena dua hal, pertama mereka toh juga bagian dari orde baru. Kedua, mereka tidak percaya kekuatan Mahasiswa bisa membesar dan berujung pada jatuhnya Seharto. Pada akhirnya nanti, jika kekuatan itu sudah bergerak, maka mau tidak mau, para elit plin plan itu juga akan berubah sikap atau serta merta mereka akan diposisikan secara tegas oleh para mahasiswa sebagai bagian inhern Orba, Soeharto. Kami sadar, jika aksi kami hanya puluhan atau ratusan orang maka para elit itu akan tetap mendukung Soeharo, tapi jika jumlah kami sudah ribuan orang maka elit-elit itu akan memilih diam, Nah kalau aksi kami sudah mencapai belasan dan puluhan ribu maka para elit itu akan bergabung dengan kami. Terakhir jika massa sudah lewat dari 100.000 orang maka tanpa ada yang minta, para elit itu akan menempatkan dirinya seolah pemimpin kami.
SOSIALISASI IDE PENDUDUKAN DPR/MPR
Bagaimanapun sikap para elit itu, Mau tidak mau kita harus rumuskan sesuatu. Mungkin itu bukan yang paling benar, tapi dari pada berjalan dalam kebingungan maka kenapa tidak kita coba rumuskan sesuatu. Dalam satu rapat Forkot, aku katakan “KITA HARUS MENDUDUKI DPR?MPR dan berikuktnya ISTANA!” Sebagian simpul tercengang, sebagian bertanya “kenapa DPR/MPR?” Aku jelaskan bahwa kultur politik dominan di Indonesia adalah kultur yang penuh simbol-simbol. Raja di simbolkan dengan keris, tombak atau senjata pusaka lainnya hingga perebutan kekuasaan selalu di awali dengan perebutan symbol-simbol itu. Nah DPR/MPR adalah symbol kedaulatan Rakyat, sedangkan Istana adalah simbol kekuasaaan. Jadi kalau symbol itu bisa direbut lalu di duduki maka legitimasi Rakyat terhadap Soeharto melalui Pemilu 1997 bisa hancur, setidaknya berkurang. Jika DPR/MPR sudah di duduki maka berikutnya kita harus mampu merebut symbol kekuasaan, symbol puncak sang raja dan itu adalah Istana Negara!
Semua argumentasi itu sudah aku sampaikan berkali-kali sampai bibir ku pegal-pegal, tetapi selalu di tolak oleh beberapa kawan-kawan lain. Kalau aku Tanya pada mereka yang menolak, “Ok Apa Tawaran lu?” mereka selalu jawab “Ya kita pikirkan” lho memangnya kita siapa? Memangnya kita punya kekuatan untuk mengatakan pada keadaan “Keadaan, tolong tunggu ya jangan normal dulu, kami belum bisa rumuskan langkah, masih mikir nih!” atau siapa yang sanggup dari kita untuk mengatakan pada Rakyat dengan muka tegak “Rakyat, sabar ya, bertahanlah dalam kelaparan kalian untuk beberapa waktu, karena kami disini sedang bingung dan terus menerus rapat entah sampai kapan” Kalau kemudian tiba-tiba Amerika melakukan intervensi ekonomi melalui Dollar atau apapun karena tidak menguntungan bagi investasinya jika keadaan terus berlarut-larut, lalu berikutnya keadaan kembali mampu di kontrol Soeharto, lalu apa yang bias kita buat. Hmmm paling-paling saling menyalahkan lalu kabur berpencaran.
Perdebatan tentang ide itu mendominasi hampir tiap rapat forum. Aku tegas bilang bahwa yang terbaik tanggal 19 Mei! Kenapa 19? Aku juga tidak bisa jawab kenapa karena tanggal itu muncul ketika kawan-kawan mendesak menanyakan “Memangnya kapan menurut lu pendudukan itu?” he he he dari pada tidak punya jawaban ya aku jawab saja dengan percaya diri dan tegas “Tanggal 19 Mei!”
Dalam salah satu Forum Forkot di sebuah kampus daerah Rawamangun, kembali perdebatan itu berulang. Aku dan beberapa kawan se ide tetap bertahan untuk menduduki DPR/MPR. Mungkin karena gaya ku yang slengean, jugul dan kata banyak orang selalu mau menang sendiri, maka sebagian kawan-kawan yang memang menolak ide itu semakin kesal. Raymond, mahasiswa dari salah satu kampus dari ISTN , tidak bisa mengontrol kekesalannya pada aku. Dia berdiri dan dengan gemas mencekik leherku sambil berkata “lu gila ya!” aku kaget kok dia marah ya? Sambil cengar-cengir aku jawab “Mond, Kita tidak punya pilihan, Melawan kita Mati, Diam juga Mati, kalau aku memilih mati dalam perlawanan, lebih terhormat! Lu pilih apa?” Sikap Raymond itu membuat kawan-kawan ku dari UKI bereaksi keras. Wah hampir saja berantam antar kampus. Wajar sih walau aku tahu apa yang dilakukan Raymond tidak sungguh-sungguh, hehe aku kenal dia sudah bertahun-tahun, tapi kawan-kawanku kan tidak tahu itu.
Pertemuan berikut di Kampus UKI Cawang di sepakati untuk membuat tim 11 untuk membahas ide pendudukan DPR/MPR. Tim lalu di minta oleh Forum membuat rapat tersendiri di lantai atas Fak Teknik UKI. Perdebatan berlangsung dari siang sampai Maghrib, dan hasilnya terpaksa di voting, 6 : 4, enam menolak, empat setuju, satu Abstain. Huh, Ide ku kalah! Beberapa kawan coba menghibur aku dengan kata-kata “sabar Yan, nanti kita perjuangkan lagi”
Aksi-aksi mahasiswa terus berlanjut, aku dan beberapa kawan dari kampus-kampus yang sepakat ide pendudukan DPR/MPR terus bergerilya mensosialisasikan dan meyakinkan ide itu Ah mudah-mudahan saja situasi kedepan memudahkan kami meyakinkan kawan-kawan yang menolak. Rapat-rapat berikutnya sudah hampir tidak pernah membicarakan ide itu sampai ketika terjadi aksi serentak di 6 titik di Jakarta pada tanggal 2 Mei 1998. Score aksi itu Kampus IKIP menjadi aksi terbesar dengan korban terbanyak, score ke dua di pegang oleh kampus ABA-ABI. Represifnya aparat, banyaknya korban membuat konstalasi forum dalam pertentangan ide pendudukan DPR/MPR sangat terasa. Kampus IKIP, saat itu simpulnya Abdulah yang semula menolak ide itu kemudian berubah drastis, berbalik mendukung walaupun tidak ada pernyataan tegas melalui Forum. Tetapi pernyataan-pernyataannya dalam forum Forkot semakin progresif, begitu juga Lutfi sebagai simpul ABA-ABI, sebelumnya mereka setengah setuju, setengah menolak, sekarang bulat semuanya setuju.
Ide itu semakin diterima ketika pada hari-hari berikutnya Represifitas Aparat terhadap gerakan mahasiswa dalam aksi-aksi massa semakin meningkat. Walaupun persetujuan terhadap ide itu tidak pernah disepakati dalam forum tapi aura persetujuan itu sangat terasa.
Ketika terjadi penembakan mahasiswa di Trisakti, lalu terjadi kerusuhan di berbagai wilayah Jakarta, maka saat itu aku dan kawan-kawan yang se ide semakin gencar mensosialisasikan ide itu dari simpul ke simpul. Persetujuan melalui Forum tetap tidak mungkin dilakukan karena akan memicu eksistensi simpul-simpul yang sejak awal menolak keras ide itu. Tetapi aku yakin se yakin-yakinnya, keadaan beberapa hari ke depan akan berpihak pada ide itu.
Antara tanggal 15 atau 16 Mei ada Rapat FKSMJ di IKIP Rawamangun yang mengangkat Henry Basel menjadi koordinator FKSMJ. Dalam pertemuan itu mereka juga membahas ide pendudukan DPR/MPR yang konon akan dilakukan Forkot pada tanggal 19 Mei. Rupanya kawan-kawan FKSMJ tidak tahu kalau ide itu sudah di tolak oleh Forum Forkot Hasil Rapat FKSMJ saat itu salah satunya memutuskan untuk mengirikan delegasi ke DPR/MPR satu hari sebelum 19 Mei yaitu tanggal 18 Mei. Informasi ini disampaikan pada aku oleh simpul Univ Mpu Tantular, Raya dan kawan-kawannya beberapa jam setelah rapat FKSMJ selesai.
Ops… ini baru seru! Sejarah bekerja dengan cara yang tidak terduga! Berbekal informasi itu, aku sebagai Simpul UKI dan kebetulan Posko Forkot saat itu di kampus UKI Cawang, mengundang kawan-kawan Simpul kampus-kampus lain untuk segera membuat pertemuan malam itu juga. Saat itu dalam Psikologi para simpul Forkot memang ada rivalitas tak terlihat antara FKSMJ dan Forkot. Jadi ketika informasi itu disampaikan di Forum Forkot maka disepakatilah untuk ke DPR juga pada tanggal yang sama tetapi datang lebih pagi. Kampus-kampus yang semula menolak ide menduduki DPR/MPR pada saat itu setuju ide untuk ke DPR tapi tetap tidak ada pembicaraan untuk menduduki. Walaupun demikian hasil gerilya ide dalam beberapa waktu terakhir dan didukung oleh situasi yang memacu semangat dan kemarahan para simpul menujukan bahwa ide pedudukan DPR/MPR itu diterima tapi tidak perlu melalui kesepakatan untuk menghindari perdebatan-perdebatan apalagi situasi di luar sana memaksa kita untuk bergerak lebih cepat dan mengurangi diskusi-diskusi. Berikutnya disepakati setiap kampus mengirimkan minimal 10 orang pelopornya yang paling nekad ke Gedung DPR/MPR pada tanggal 18 Mei 1998 pukul 9 pagi, dengan catatan jika sampai jam 11 siang kondisi komdusif untuk mobilisasi lebih besar maka setiap kampus harus segera memobilisasi massa nya.
Malamnya aku dan kawan-kawan diskusi kecil untuk coba menghitung segala kemungkinan yang terjadi besok. Rapat internal KM UKI menyepakati tidak ada pembatasan mobilisasi dari Basis UKI untuk datang ke DPR/MPR 18 Mei besok, jadi dari UKI kami hitung besok pagi sudah siap minimal 70 an orang untuk jadi pelopor. Wah deg deg syurrr nih
Detik-detik menegangkan terjadi juga. Pagi itu sekitar pukul 08.45 WIB aku sampai di depan gerbang DPR/MPR dengan beberapa kawan. Di pinggir jalan tampak kawan-kawan dari berbagai kampus dalam kelompok-kelompok kecil yang terpisah-pisah seperti orang-orang yang menunggu angkutan. Kalau dilihat sepintas memang seperti tidak ada apa-apa, tetapi jika diperhatikan baik-baik wajah satu persatu maka tidak bisa dipungkiri bahwa kami semua tegang. Bagaimana tidak, Jakarta saat itu benar-benar seperti lapangan tempat gelar pasukan, di mana-mana ada tentara berseragam dan bersenjata lengkap. Sebagian bahkan tidak tampak tanda pangkat, kesatuan, nama dan atribut-atribut yang dapat di identifikasi karena tertutup mantel ponco bercorak loreng kecoklatan.
Sekitar pukul 09.00 WIB, perangkat aksi segera mengumpulkan kelompok-kelompok kecil itu menjadi sebuah kerumunan besar, sekitar 800 an mahasiswa. Beberapa mahasiswa kemudian membuka tasnya dan mengambil jaket almamater serta mengenakannya. Mobil yang melintas serta merta melambatkan lajunya, membuka kaca dan melambaikan tangan sembari berteriak “Hidup Mahasiswa!” Supir bis, truk dan taksi menyampaikan dukungan dengan membunyikan klakson. Kondektur dan penumpang bis mengacungkan jempol atau sekedar melambaikan tangan. Ah rasanya bangga sekali ketika melihat dukungan Rakyat yang sangat luar biasa.
Semakin siang, kerumunan sudah semakin membesar. Sekitar jam 12 WIB jumlah massa sudah mencapai sekitar 3000 an orang dan terlihat akan semakin bertambah banyak, karena setiap bis yang melintas bisa dipastikan berhenti dan menurunkan 4 atau 5 mahasiswa yang segera bergabung membuat barisan semakin besar dari menit ke menit. Luar biasa, dari perkiraan awal jumlah massa sekitar 600 orang, ternyata kini membengkak menjadi ribuan orang. Para simpul kampus terus sibuk berkomunikasi dengan basis-basisnya untuk terus memobilisasi massa. Massa terlihat semakin ramai karena puluhan bahkan mungkin ratusan wartawan dalam dan luar negeri juga berada di sekitar kerumunan massa.
Sekitar pukul 13 WIB aku melakukan lobby dengan tentara yang pangkatnya paling tinggi di lapangan, seingatku namanya Bambang. Negosiasi berjalan alot. Tentara tetap tidak mengijnkan kami masuk. Orasi dari tengah-tengah massa juga terus dilakukan bergantian dengan orator dari berbagai kampus. Setelah negosiasi sepertinya tidak menunjukan titik temu, maka aku mulai bersikap lebih nekad. Aku katakan pada Tentara Bambang, “Begini pak, massa akan terus bertambah setiap detik, Bapak punya 3 pilihan, Pertama membiarkan massa tetap berada di luar gedung dan tidak akan mampu mengkontrol luapan yang terus bertambah. Kedua, membubarkan massa dengan paksa dan itu akan berujung pada benturan bahkan mungkin kerusuhan. Ketiga, Membuka pintu gerbang dan memiarkan massa masuk ke dalam.
Tentara bernama Bambang, kemudian minta waktu 5 menit untuk menyampaikan permintaan kita ke komandannya. Lima menit kemudian dia menghampiri aku dan menyampaikan bahwa Massa Mahasiswa bisa masuk tetapi gerbang hanya akan dibuka selebar 1 meter. Gerbang dibuka, he he he Cuma 1 meter. Aku kemudian mengambil posisi menyeleksi massa yang masuk. Setelah sekitar 2 atau 3 kampus masuk, di tengah-tengah massa ada puluhan orang yang mengikat pangkal lengan atasnya dengan kain berbentuk segitiga. Wah apa-apa an itu? dari mana mereka? Kita tidak punya kesepakatan mengunakan atribut atau simbol-simbol, terkecuali jaket almamater. Kekhawatiranku terhadap adanya infiltrasi di massa semakin tinggi ketika jumlah massa yang mengenakan atribut segitiga di lengan kanannya semakin besar, mungkin berjumlah 100 sampai 200 orang. Mau tidak mau, aku meminta perangkat aksi untuk menahan massa dengan atribut itu agar tidak masuk ke dalam gedung DPR dan memisahkan mereka dari barisan massa. Tidak lama kemudian salah seorang mahasiswa menghampiri aku dan membawa beberapa kain segitiga itu. Dan di kain tersebut tertuli “KAMMI” oh ternyata mereka dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia.
Tidak berapa lama kemudian beberapa mahasiswa dari KAMMI menghampiri aku dan melakukan negosiasi agar mereka juga boleh masuk ke gedung DPR. Setelah berdebat cukup lama maka akhirnya diambilah dua kesepakatan, pertama, semua mahasiswa KAMMI melepaskan dan mengumpulkan atribut kain segitiga itu dan menyerahkan pada teklap-teklap Forkot. Kedua, seluruh mahasiswa KAMMI yang masuk harus ikut dalam komando perangkat aksi Forkot.
Situasi begitu tegang, mau tidak mau barisan harus disolidkan jangan sampai ada agenda tersembunyi yang berbeda dari barisan massa। Jangan sampai ada manuver-manuver yang membahayakan massa.
PENDUDUKAN DPR…. (lanjutan)
Ribuan massa memulai masuk ke halaman gedung DPR/MPR. Diantara aliran massa itu ada sekitar 60 an mahasiswa mahasiswa berjaket kuning yang memisahkan diri dari barisan dan membuat iring-iringan tersendiri merjalan kearah gedung DPR/MPR. Apa yang sering dikatakan para Aktivis Senior bahwa UI selalu saja menjadi kolaborator elit sepertinya memang benar. Memang kalau kita coba bedah sejarah mulai dari tahun 1966, 1974 dan seterusnya, Gerakan mahasiswa UI tidak pernah menjadi gerakan Mahasiswa Independen, UI selalu menjadi “kaki” dari elit yang bertikai.
Melihat adanya manuver mahasiswa UI yang menumpang masuk DPR dari barisan Forkot dan memisahkan diri setelah berhasil masuk, membuat sebagian kawan dari beberapa kampus antara lain Atmajaya, ISTN, IKIP, IAIN dan UKI terlihat emosi lalu mengejar mahasiswa-mahasiswa UI itu. Dalam hiungan 3 – 5 menit terjadi saling kejar dan sempat terlontar beberapa botol aqua ke arah mahasiswa UI. Mahasiswa UI kemudian berhamburan secepatnya ke arah gedung DPR/MPR. Aksi kejar-mengejar berhenti setelah para teklap menghadang massa yang mengejar dan meminta agar kembali ke barisan.
Massa berhasil dirapatkan kembali dalam barisan yang solid dengan teklap yang berpegangan tangan mengelilingi barisan. Massa kemudia berhenti di samping depan bawah undakan tangga gedung kubah. Orasi dan lagu serta puisi terus dibawakan bergantian. Beberapa mahasiswa terlihat keluar dari barisan dan menaikan sebuah spanduk bertuliskan “TURUNKAN SOEHARTO - BUBARKAN DPR/MPR” beberapa detik ketika spanduk itu sudah naik biatas dan tiulisannya terlihat jelas, ratusan aparat militer bersenjata lengkap yang mengepung barisan massa serentak mengokang senjatanya… bunyi kokangkan senjata serentak itu membuat suasana hening seketika. Ratusan senjata terkokang itu kemudian diarahkan ke massa. Hampir bersamaan, puluhan wartawan yang berada disekitar barisan terlihat berlarian ke arah tangga, sepertinya mereka juga tidak mau menjadi korban ketika ada random shooting dari tentara.
Teklap disekeliling barisan segera berpegangan tangan, sementara sebagian massa memilih bertiarap, sebagian lagi tetap berdiri…. Tapi luar biasa, tidak satupun dari massa yang lari dari barisan. Aku sepertinya bisa mendengar dengan jelas detak jantung ku sendiri. Iwan Sumule kemudian menghampiri aku dan berbisik, “Yan, magazinnya peluru tajam, bagaimana menurut lu?” aku menjawab “dari mana lu tahu?” Masih setengah berbisik Iwan katakan, “di magazinnya ada strip merah” untuk beberapa saat aku terdiam, kemudian aku katakan pada Iwan, “Kalau ini takdir, ayo kita jalani!” setelah itu aku berjalan berkeliling massa sambil berorasi “Jangan takut kawan-kawan, apa yang kita lakukan adalah benar, kalau untuk Republik untuk Rakyat kita harus mati, maka itu akan menjadi kematian yang terindah!” aku mengucapkan itu berkeliling dan berebutan suara dengan komando yang berada di depan yang terus memimpin dinamisasi massa agar tidak terjebak dalam ketakutan.
Sementara itu tim lobby bernegosiasi dengan pihak Tentara. Setelah melakukan negosiasi yang cukup alot akhirnya disepakati bahwa Tentara akan menurunkan senjatanya setelah kawan-kawan menurunkan spanduk yang terbentang diatas jejeran tiang bendera. Dalam beberapa menit kemudian ketika spanduk diturunkan dan diikuti oleh tentara yang menurunkan senjatanya, aku mendengar ratusan desahan nafas lega…”ahaaaah…”
Para simpul kemudian berkumpul di tangga gedung kubah untuk melakukan konfrensi pers. Saat konfrensi sendang berlangsung, kembali para wartawan berlarian ke arah gedung DPR/MPR. Aku minta kawan-kawan untuk segera cari tahu ada apa. Seketika aku langsung berfikir, jangan… jangan… Tidak sampai 2 menit, kawan-kawan mengabari aku dan mengatakan bahwa Amien Rais akan keluar dari gedung DPR?MPR dan menemui mahasiswa. Tidak bderapa lama kemudian, seseorang yang mengaku utusan Amien Rais menemui kami dan menyampaikan pesan bahwa Amien Rais mau berorasi didepan massa. Aku segera berembuk dengan kawan-kawan simpul dan kami semua sepakat untuk menolak Amien Rais berorasi di depan massa. Kesepakatan itu kami sampaikan pada utusan Amien Rais. Sebelum pergi kembali ke gedung, utusan Amien Rais sempat bertanya dalam kebingungan, “Lho memangnya mahasiswa yang di dalam dan yang di luar itu berbeda ya?” beberapa kawan-kawan simpul coba menjelaskan bahwa dari Forkot tidak ada yang kedalam gedung DPR/MPR. Masih dengan wajah yang bingung, utusan Amien Rais kemudian bergegas kembali ke gedung DPR/MPR. Berikutnya kawan-kawan simpul kembali berbaur dalam barisan.
Beberapa menit setelah utusan Amien Rais pergi, aku mendengar suara riuh dari arah gedung DPR/MPR yang diikuti dengan beberapa wartawan yang berlari-lari kearah gedung. Tidak beberapa lama kemudian tampak puluhan orang berjaket kuning yang bercampur wartawan berkerumun sembari berjalan… ternyata ditengah wartawan itu ada Amien Rais. Amien Rais kemudian keluar dari kerumunan dan menghadap pada barisan massa Forkot sampil mengangkat kedua belah tangannya ke atas. Massa serentak melihat kearah Amien Rais dan saling bisik “itu siapa?”, “dia mau apa?” lalu Amien Rais naik ke atap mobil kijang. Di atas mobil Kijang Amien Rais sambil menghadap ke barisan Forkot ia kembali mengangkat kedua tangannya. Saat itu peluhan kilatan lampu blitz kamera terlihat menyala bergantian. Entah komando dari mana, puluhan mahasiswa dari Forkot keluar dari barisan dan berlarian ke arah Amien Rais, tidak berapa lama kemudian, beberapa botol Aqua terlihat berterbangan ke arah Amien Rais. Tidak sampai 2 menit kemudian Amien Rais sudah turun dan kembali ke dalam gedung DPR/MPR sebelum sempat berbicara sepatah katapun.
Setelah kericuhan itu reda, aku coba bicara dengan beberapa simpul kampus yang mahasiswanya tadi berlarian kearah Amien Rais. Beberapa simpul menggerutu “Enak saja, emangnya Amien Rais itu siapa?” Ada juga yang mengatakan “Dia juga kadernya Soeharto” ada juga simpul yang katakan “Kita yang terancam nyawa lalu mahasiswa UI yang negoisiasi!” beberapa simpul yang juga masih emosional mengatakan “Kita yang kumpulkan kawan-kawan kok Amien yang mau untung!” Aku tidak mengomentari apapun tapi aku sangat mengerti emosi kawan-kawan. Perjalanan panjang dan keras yang dibayang-bayangi saat menggalang kampus demi kampus berbulan-bulan dan bentrokan berkali-kali di Universitas Sahid, ABA-ABI dan IKIP yang memakan korban ratusan mahasiswa luka tentu membuat kawan-kawan seperti singa lapar yang gampang marah. Sensitif dan emosional.
Seluruh Teklap bekerja keras dan sungguh-sungguh. Massa sangat tertib dan bersemangat. Orasi diikuti dengan tekun, yel-yel diteriakan serentak, lagu dinyanyikan dengan keras dan berbarengan. Harus diakui, situasi represif dan aksi yang intensif dengan bentrokan yang berkali-kali membuat para Teklap menjadi ekstra ketat dan waspada terhadap segala kemungkinan. Beberapa tokoh melalui utusan utusan masing-masing meminta waktu untuk mengisi orasi. Tetapi tidak satupun yang diterima. Kekesalan kawan-kawan selama ini pada para elit yang plin plan dan cari aman mebuat kawan-kawan sangat alergi ketika ada elit politik yang coba “mendekat”.
Bisa dipahami memang, kawan-kawan merasa sendirian tidak ada suport dan dukungan yang jelas dari para elit politik. Rata-rata simpati datang dari para dosen, alumni, dan para aktivis senior serta segelintir ilmuwan. Tentu situasi itu berbeda jauh dengan gerakan 1966 yang didukung penuh oleh Militer, khususnya angkatan darat. Bahkan menurut banyak literatur, dukungan itu tidak hanya berupa pernyataan politik tetapi dukungan mulai dari mobilisasi yang menggunakan truk-truk tentara, perlindungan, makanan, uang dan sebagainya. Bandingkan dengan aksi 1998, sampai kami masuk ke DPR hari ini pun tidak ada satu gelas Aqua yang diberikan pada kami.