Me and My self

Biografi saya

Adian Yunus Yusak Napitupulu, SH adalah putera ketiga dari 4 putera pasangan Ishak Parluhutan Napitupulu, SH dan Soeparti Esther. Ayahnya adalah pegawai negeri sipil yang sempat menjabat sebagai Kepala Kejaksaaan Negeri di Kotamobagu (Sulawesi Utara), Barabai (Kalimantan Selatan), Kupang (Nusa Tenggara Timur) dan terakhir menjabat di Kejaksaan Agung RI sebelum pada akhirnya meninggal dunia pada saat Adian baru berusia 10 tahun.

Aktivitas pergerakan Adian dimulai pada akhir tahun 1991 ketika ia bekerja menjadi buruh dengan upah Rp 3.000 / hari di pabrik kayu di Total Group di kawasan Industri Marunda. Setelah ditangkap pukul 2 pagi dan di tahan di Polsek Cilincing Jakarta Utara dan dinterogasi terkait keterlibatannya dalam 5 kali Demontrasi dan pemogokan di Pabrik, Adian kemudian diberhentikan dengan tidak hormat.

Tahun 1992 Adian mendaftarkan diri dan diterima menjadi anggota Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Cabang Jakarta. Dua tahun Berikutnya Adian beserta 4 orang kawannya membentuk Kelompok Diskusi Prodeo di sebuah rumah petak ukuran 4 x 8 meter di daerah Kramat Jati. Kelompok Diskusi ini dibiayai dari oleh 3 Supir dan 6 Kondektur bis PPD dari Depo H Simpang Hek Jakarta Timur.

Saat terlibat aksi Solidaritas di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam kasus Sri Bintang Pamungkas yang terkait Demonstrasi anti Soeharto di Dressden, Jerman, Adian kembali ditangkap dan di interogasi di Polres Jakarta Pusat.

Pada tahun 1996 saat Adian bersiap menyelesaikan kuliahnya dan sedang menyusun Skripsi, ia justeru mengorganisir Petani sawangan dan bergabung dalam Posko Pemuda - Mahasiswa yang menjadi satu-satunya Posko Non Anggota PDI dengan wilayah kerja menggalang dukungan solidaritas Rakyat terhadap Megawati Soekarno Putri. Ketika kantor DPP PDI diserbu aparat dan pendukung Suryadi pada tanggal 27 Juli 1996, Adian menggalang perlawanan bersama dengan kawan-kawan mahasiswa Fakultas Hukum UKI yang terlibat bentrokan dengan aparat sejak pukul 10 pagi hingga pukul 20 WIB. Sejak hari itu kampus FH-UKI menjadi salah satu konsentrasi sweeping Aparat Militer.

Bersama sekitar 15 orang kawan dari kampus UKI, UNTAG dan APP, Adian bersembunyi di sebuah rumah di Jakarta selatan. Dua minggu kemudian kelima belas aktivis itu dipecah tiga, Adian bersama 4 orang bersembunyi di daerah Bekasi. Setelah 1 minggu bertahan di Belasi, Adian bersama kawan-kawannya leri bersembunyi di sebuah gunung di wilayah Jawa Barat.

Awal Oktober 1996 Adian kembali berkumpul dengan kawan-kawannya dan mengumpulkan aktivis-aktivis Jakarta yang tercerai berai untuk mulai menggalang kembali Demonstrasi Solidaritas terhadap penyerbuan kantor DPP PDI. Demontrasi pertama dilakukan pada tanggal 28 oktober 1996 di Gedung Sumpah Pemuda. Untuk ketiga kalinya Adian ditangkap dan diinterogasi di Polres Jakarta Pusat.

Akhir 1996 Adian bersama kawan-kawannya membentuk Lembaga Bantuan Hukum Nusantara Jakarta dan mulai terlibat melakukan pendampingan dan pengorganisasian terhadap Korban SUTET di desa Cibentang, Parung Jawa Barat. Saat selesai mendampingi warga dalam salah satu aksi SUTET ke kantor PBB di Jalan Sudirman menjelang Pemilu 1997, Adian bersama kawan-kawannya berniat menonton Sepak Bola di GOR Senayan kemudian terlibat pertengkaran dengan Aparat militer. Sekitar 60 menit Adian di interogasi, pukuli, di rotan dan ditendang bergantian di jalan umum oleh sekitar 6 orang Aparat Militer bersenjata sebelum akhirnya dilepas dengan bibir pecah dan beberapa bekas tendangan di dada dan tiga luka di wajah.

Penganiayaan terhadap Adian yang saat itu sudah menjadi Sekretaris Eksekutif LBHN Jakarta kembali berulang di saat kampanye terakhir Golkar ketika Pemilu 1997. Bermula dari penolakan Adian terhadap paksaan massa Golkar untuk menujukan jari tengah dan telunjuk (No 2 / Golkar), Adian kemudian di pukuli di atas bis kota PPD 46 lalu ditarik paksa turun dari bis dan dikeroyok ditengah jalan oleh belasan Anggota Golkar di daerah Cawang Atas Jakarta Timur. Beberapa minggu dari peristiwa itu, Desmon J Mahesa, Direktur Eksekutif LBHN Jakarta, hilang di Culik. Melihat situasi tersebut, maka Adian memutuskan untuk tidak lagi berkantor. Seluruh perlatan Administratif berada dalam satu tas besar yang selalu siap dibawa berpindah-pindah.

Akhir 1997 situasi ekonomi negara mulai memburuk, para aktivis yang tercerai berai tampak mulai berdatangan satu-persatu ke Jakarta. Komunikasi mulai dijalin kembali, pertemuan menjadi semakin intensif. Adian mulai menghubungi beberapa kawan-kawan untuk membuat pertemuan aktivis-aktivis kampus. Sebagian besar merasa Pesimis tentang Ide tersebut, beberapa yang lain tetap Optimis. Tetapi pada akhirnya, sekitar bulan Januari 2007 pertemuan pertama bisa dilakukan di kampus ISTN dengan dihadiri oleh perwakilan 6 kampus, yaitu UKI, ISTN, APP, ABA-ABI, Univ Kertanegara dan Unija. Pertemuan pertama itu menjadi Embrio lahirnya Komunitas Mahasiswa Se Jabotabek atau FORKOT.Pertemuan kedua IAIN, IKIP, UNAS bergabung. Dari pertemuan ke pertemuan, jumlah kampus semakin banyak. Setiap pertemuan selalu mengagedakankan aksi yang tersebar di berbagai titik dengan massa yang mulai membesar. Intensitas pertemuan menjadi semakin Tinggi, jumlah massa semakin membesar hingga mulai di coba pada aksi yang lebih terorganisir dan terukur, antara lain, Aksi keluar dari kampus, aksi di satu titik (UKI Cawang), lalu aksi di 6 titik, hingga aksi bentrokan dan terakhir pendudukan DPR-MPR.

Jumat, 30 November 2007

Jejak darah sang Raja

JEJAK DARAH SANG RAJA

SAAT RAKYAT MENDERITA

DAN PENGUASA BERPESTA…

JANGAN SALAHKAN JIKA ALAM PUN MURKA!

Sudah sekitar 28 bulan SBY-JK berkuasa, dan sejak awal SBY-JK menjabat, Indonesia seperti dirudung malang yang tak pernah berhenti. Di mulai dengan Tabrakan beruntun di Tol Jagorawi saat SBY mau berangkat dari Cikeas ke Istana Negara, saat itu 9 orang meninggal seketika. Lalu mulailah banjir darah tak kunjung henti, ada Tsunami yang menelan lebih dari 180.000 jiwa, ada gempa di Nias, Gempa di NTT, Gempa di Bantul- Jogja – Jateng, Gempa di Pangandaran, Banjir, Tanah Longsor, pesawat jatuh, pesawat hilang, kapal tenggelam, kapal terbakar, tabrakan kereta, kereta terbalik, Flu Burung, Kelaparan di Yakuhimo, bahkan sampai Orang-orang yang mati karena tertimpa timbunan sampah atau rumah dan pabrik yang hancur terendam Lumpur, bahkan Ibu Kota pun terendam banjir besar yang membuat 4 juta lebih penduduk Jakarta harus mengungsi.

Kalau mau di total, maka dalam 828 hari SBY-JK berkuasa sudah 374.000 jiwa yang meninggal karena berbagai peristiwa di atas. Itu belum termasuk mereka yang meninggal karena hal-hal lain. Kalau di bagi dengan jumlah hari SBY-JK berkuasa maka tiap hari ada 451 orang yang meninggal atau 18 orang tiap jam atau 3 orang tiap menit!

Kalau melihat angka-angka itu, wajar jika bulu kuduk kita merinding karena kita semua seolah-olah sedang menunggu giliran menjadi korban di menit-menit berikutnya, menunggu kapan kematian itu datang menghampiri masing-masing Dari Petani sampai Mantan Gubernur bahkan Wartawan pun harus mati tenggelam ketika meliput bangkai kapal yang terbakar.

Sby – Jk dengan kepiawaian Juru bicaranya yang di dukung media massa yang pro kebohongan, berusaha mencari kambing hitam dari beragam tragedy yang membuat Indonesia berlumuran darah. Tidak sulit, ada objek yang tidak akan protes, yang tidak akan menyangkal jika dijadikan kambing hitam, namanya adalah ALAM. Alam kemudian menjadi tumpuan kambing hitam dari berbagai kematian. Mulailah Sby – Jk dan antek-anteknya menuduh angin adalah sebab kematian, ombak laut sebab kematian, dinamika lempengan bumi adalah sebab kematian, awan tebal adalah sebab kematian, kabut adalah sebab kematian, bahkan yang paling mutakhir, Ayam, Burung, Itik, Bebek, bahkan tikus juga adalah sebab kematian, bahaya buat Kehidupan…. Singkat kata, semua ciptaan Tuhan di Alam ini adalah Sebab Kematian, semua fenomena Alam yang sudah terjadi berulang kali sejak ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu adalah sebab kematian.

Jika mulai dari udara, batu, tanah, pohon, hewan adalah sebab kematian dan bahaya bagi kehidupan maka, tanpa disadari Sby-Jk sedang menuduh dan mengkambing hitamkan sang Pencipta Alam sebagai terdakwa dari seluruh tragedy. Tanpa disadari maka saat yang sama Sby – Jk mengatakan bahwa dirinya adalah makhluk yang paling suci dan paling benar!

Di Jepang, gempa terjadi hampir setiap jam, di laut ombak adalah keharusan untuk menjadikan kumbangan air itu menjadi bernama laut, Angin adalah kewajiban bagi udara agar awan bisa berpindah, air adalah berkat bukan musuh bagi manusia. Tuhan ciptakan semua itu bukan untuk di caci maki apalagi dijadikan kambing hitam, Singkatnya bukan peristiwa alam yang patut di salahkan tetapi kegagalan Pemerintah untuk mengantisipasilah yang salah. Bukan Alam yang bersalah tetapi Pemerintahlah yang tidak mampu melindungi Rakyatnya.

Sebagai contoh, jumlah korban terbesar yang meninggal karena Tsunami di Aceh tidaklah mati di detik pertama ketika Air Bah melanda Aceh, juga tidak mati di jam ke pertama, ke dua dan ke tiga melainkan meninggal di dua puluh jam berikutnya. Dengan demikian maka ketika ada 180.000 jiwa meninggal, jumlah terbesarnya meninggal karena ketidak siapan pemerintah dalam melakukan pertolongan segera. Padahal, di Wilayah Sumatera ada 3 buah KODAM (Kodam Iskandar Muda, Kodam Bukit Barisan dan Kodam Sriwijaya) yang dilengkapi dengan berbagai peralatan kemiliteran yang memang di desain khusus untuk situasi yang tidak normal. Ada jembatan ponton, ada puluhan truk yang khusus untuk menjelajahi rimba, ada banyak perahu karet, ada banyak alat selam, ada traktor, ada bulldozer, pesawat tempur, panser, tank amphibi bahkan cangkul, tali temali, tenda dan sebagainya. Masalahnya bukan Tsunami, tetapi kenapa alat-alat itu tetap ada di barak-barak militer sampai hari berikutnya setelah terjadinya Tsunami. Kalau saja 30 menit atau 1 jam setelah Air bah melanda Aceh, peralatan-peralatan itu segera diberangkatkan dengan pesawat Herkules, diangkut dengan Helikopter maka mungkin ada 10.000 atau 20.000 atau bahkan mungkin 179.500 jiwa yang bisa diselamatkan. Yang menyedihkan adalah kenapa pertolongan pertama yang datang dari luar Aceh justeru datang dari NGO negara asing yang terletak puluhan ribu kilo meter, bukan dari KODAM Iskandar muda yang cuma berjarak 250 kilometer dari Aceh.

Kelalaian serupa tidak Cuma terjadi di Aceh, tapi juga di Nias, di Jogja dan banyak tempat lainnya. Bayangkan, Sby-Jk begitu lambat dalam menolong Rakyatnya saat terjadi bencana, tetapi begitu cepat dalam menggusur pemukiman kumuh atau menggusur petani. Sby-Jk begitu lambat dalam mengirimkan bantuan untuk Rakyat tetapi sangat cepat ketika menghitung berapa keuntungan yang akan didapat saat BBM di naikkan.

Kenapa ada begitu banyak darah yang tumpah di Republik tercinta ini? Apakah karena Sby dilahirkan pada malam jumat Kliwon atau karena namanya Yudho yang berarti PERANG BESAR atau mungkin saja karena nama wakilnya adalah KALLA yang bermakna Bencana atau mungkin karena kesemuanya itu sehingga darah tak kunjung berhenti. Atau mungkin karena masa lalu Sby yang pernah menjatuhkan Bom Napalm di Timor Timor yang mengakikbatkan 200.000 orang mati terpanggang. Atau mungkin karena cara berfikir JK yang rasialis yang membuat Alam murka. Atau mungkin karena semua kombinasi itu. Tetapi apapun sebabnya, apapun alasannya, Fakta nyatakan bahwa bencana, kemiskinan, dan penderitaan Rakyat bertambah banyak dan jelas bahwa Sby – JK tidak mampu mensejaterakan Rakyatnya, tidak mampu melindungi Rakyatnya, tidak mampu mengayomi Rakyatnya.

Mungkin SBY-JK adalah bapak yang baik bagi anak-anaknya, suami yang baik bagi isterinya, maka bukan sesuatu yang mengherankan jika disaat Rakyat jungkir balik mencari makan disaat ekonomi yang sangat sulit, SBY tidak ragu-ragu membuang uang Rp 7 Milyar hanya untuk menikahkan anaknya. Padahal, uang sebesar itu bisa digunakan untuk biaya sekolah selama satu tahun bagi 14.000 anak sekolah dasar. Begitu juga bagaimana kita lihat kehidupan keluarga SBY-JK beserta keluarga menterinya yang tiap hari berpesta di hotel mewah, belanja baju di Singapura, atau sekedar jalan-jalan di Hawaii sementara pada saat yang sama ada 2 juta Balita yang kurag gizi, 12 juta orang kelaparan, 47 juta pengangguran, dan 118 juta orang yang hidup dalam kemiskinan.

Sesungguhnya ceceran darah, keringat dan air mata Rakyat yang begitu banyak terjadi, menjadi sebab paling Konstitusional untuk menuntut Sby – JK segera turun dari tahtanya. Karena bukankah makna terdalam dari konstitusi adalah bagaimana Negara melindungi Rakyatnya, bagaimana negara wajib mensejahterakan Rakyatnya dan ketika sebuah pemerintah gagal total melaksanakan amanat hakiki konstitusi maka tidak ada pilihan, dia harus turun suka rela atau diturunkan dengan paksa!

Pedagang Kaki Lima, Pahlawan atau Penjahat!?

PEDAGANG KAKI LIMA

Dijakarta saat ini terdapat sekitar 300.000 pedagang kaki lima (PKL) yang bertebaran diberbagai lampu merah, pasar, terminal, dan sebagainya. Caci maki, pengkambing hitaman pedagang kaki lima kerap kita dengar dari dari pernyataan para pejabat pemerintah daerah. Mulai dari istilah pedagang liar, penyebab kemacetan sampai pemicu kerawanan social. Sangat jarang bahkan mungkin bias dibilang tidak ada pejabat yang membela para pedagang kaki lima. Benarkah tuduhan tersebut, apakah pedagang kaki lima memang musuh negara yang menciptakan kehancuran atau justeru mereka adalah pahlawan negara.

Untuk itu mari kita coba periksa satu persatu sehingga pada akhirnya nanti kita dapat sampai pada satu dari dua pilihan kontraversial tersebut tadi. Kita mulai dari cita-cita ideal dibentuknya negara. Tujuan negara modern, dimanapun pada esensinya adalah sama, KESEJAHTERAAN RAKYAT. Untuk Indonesia, lebih jelas tujuan tersebut bahkan tegas ditulis dalam konstitusi kita “Setiap warga negara berhak memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan” secara sederhana ada dua tafsir terhadap pernyataan tersebut. Pertama, Negara Wajib menyediakan lapangan kerja dan penghidupan yang layak. Ke dua, Negara memberi kebebasan pada Rakyatnya untuk bekerja jika negara tidak mampu menyiapkan lapangan kerja.

Lahirnya ratusan ribu PKL sebenarnya adalah wujud dari kegagalan pemerintah (negara) menyiapkan lapangan kerja. Kewenangan sedemikian besar yang dimiliki oleh negara untuk mengelola segala bentuk sumber daya dan potensi yang tersedia dari sabang sampai merauke, dari laut, gunung dan lembah, langit dan perut bumi, dalam prakteknya ternyata tidak mampu dikelola untuk kesejahteraan Rakyat, dalam konteks ini tidak mampu menyiapkan lapangan kerja bagi Rakyat. Lalu Rakyat dengan kesabaran yang tinggi, ketangguhan yang luar biasa, tanpa mengeluh membuat pekerjaan bagi dirinya dengan memanfaatkan sudut - sudut, pinggir-pinggir, di atas got, di jalur hijau dan tempat-tempat lain yang masih mungkin dimanfaatkan. Semua dilakukan dengan keringat dan kerja keras, tanpa mengeluh apa lagi memberontak walaupun mungkin mereka tahu bahwa mereka tidak perlu menjadi PKL jika Negara berlaku adil dan mendistribusikan kesempatan untuk sejahtera.

PKL ternyata tidak Cuma membuat pekerjaan bagi dirinya, tetapi buat sekian ribu, ratus ribu bahkan mungkin jutaan orang lainnya. Jika setiap PKL selama 24 jam mempekerjakan 2 orang, maka PKL Jakarta telah membuka, menyerap dan menghidupi paling tidak 600.000 orang, luar biasa, bahkan konglomerat yang paling dimanja pemerentiah dengan berbagai kemudahan, fasilitas dan pinjaman tetap saja tidak mampu menyiapkan lapangan kerja sebesar itu. Jika pertumbuhan Ekonomi Indonesia rata-rata adalah 6 % per tahun dan jika per 1 % pertumbuhan ekonomi itu setara dengan 600.000 lapangan kerja, maka PKL telah menyumbangan 1 % pertumbuhan ekonomi bagi negara. Rantai distribusi kesejahteraan PKL ternyata tidak berhenti di situ, PKL juga telah menghidupi puluhan ribu kuli orang yang berkerja sebagai panggul, supir, ojek dan sebagainya.

Dengan 300.000 PKL di seluruh penjuru Jakarta, jutaan barang berpindah tangan setiap menit, setiap menit terjadi transaksi uang, dan setiap transaksi, setiap barang berpindah maka saat itu juga ada pajak yang dibayarkan oleh PKL pada negara. Jika omzet rata-rata setiap PKL adalah Rp 200.000 perhari dan di dalamnya melekat pajak minimal 10 % maka jangan kaget bahwa jika PKL Jakarta mampu memberikan pajak penjualan sebesar 300.000 x Rp 20.000,- yaitu Rp 6.000.000.000 per hari atau Rp 180.000.000.000 setiap bulannya. Sebuah angka yang sangat fantastis yang mungkin tidak pernah di perhitungkan oleh siapapun bahwa angka itu lahir dari mereka yang hidup di pinggir-pinggir got, di pinggir-pinggir jalan, di jalur hijau….

PKL sebagai salah satu kekuatan ekonomi yang luar biasa bukan Cuma isapan jempol, bukan Cuma kisah dongeng, tetapi pernah di uji ketangguhannya pada tahun 1997 – 1999, ketika Indonesia dalam keadaan kolaps dan sedang berjalan menuju kehancuran. Ahli Ekonomi manapun tidak ada yang menyangkal bahwa pada saat itu yang membuat roda ekonomi tetap berputar, Rakyat tetap makan, lapangan kerja tetap tersedia, bukanlah karena kepiawaian para menteri atau professor-profesor di kampus-kampus, bukan karena kepawaiuan para politisi di parlemen, juga bukan karena otak cerdas para konglomerat. Saat itu Indonesia bertahan justeru karena keringat bau yang mengucur dari para pelaku sector informal, diantaranya adalah para PKL. PKL lah pahlawan saat itu, PKL pemnyelamat bangsa saat itu, bukan para konglomerat karena saat itu para konglomerat berlomba lari ke luar negeri dengan membawa berkarung-karung uang yang di dapat dari puluhan tahun kemanjaan, fasisilitas dan kemudahaan yang diberi pemerintah untuk dapat memotong jutaan pohon di hutan, mengeksploitasi tambang emas, batu bara, dan sebagainya. Setelah itu para konglomerat lalu berlomba lari keluar negeri, membeli apartemen mewah dan hidup nyaman sembari meninggalkan kemiskinan yang besara dibelakangnya.

Dari uraian pendek di atas, kiranya kita bisa menjawab sendiri apakah PKL itu penjahat atau justeru pahlawan?

Kamis, 29 November 2007

KESAKSIAN 27 July 1996

HARI ITU TANGGAL DUA PULUH TUJUH


Sekitar 12 hari isu bahwa DPP PDIP akan diserbu membuat kami semakin tegang. Tiap malam dari tempat kumpul diberangkatkan minimal 3 orang untuk melihat kondisi kawan-kawan yang stand by di Posko Pemuda dan Mahasiswa. Bagaimanapun juga ada kawan-kawan yang pasang badan setiap hari 24 jam di Posko. Robert, mahasiswa Untag koordinator posko, terlihat makin kuyu dan letih. Untungnya kawan Robert punya selera humor yang tinggi hingga dia bisa bertahan.

Pada hari-hari pertama mendengar bahwa DPP PDI akan diserbu, kawan-kawan terlihat sangat bersemangat, semua berangkat ke DPP. Tetapi masuk pada hari ke lima dan seterusnya dan penyerbuan itu tidak terjadi, terlihat semangat kawan-kawan semakin mengendur, Masuk hari ke tujuh dan delapan, sebagian kawan-kawan justeru sudah mulai ragu apakah akan terjadi penyerbuan. Setelah masuk hari ke sepuluh, beberapa kawan-kawan mulai tidak tertib, sebagian pulang kerumah.

Hari-hari ku dihabiskan dengan kegiatan rutin, Datang ke Posko lalu kembali lagi ke base camp, lalu ambil Screen, Rakel, tinta dan kertas-kertas Sticker kemudian mulai menyablon. Sementara itu beberapa kawan mengeringkan sticker dan mulai memotong-motong agar sisi kiri kanan atas bawah simetris. Maklumlah, kertas sticker yang dipakai adalah kertas sticker bekas yang kami beli bukan lembaran tapi kiloan. Selama lebih dari 3 minggu Dari Base Camp itu kami mencetak ribuan hingga belasan ribu Sticker beraneka ragam. Ada Sticker bertulisan “WE LOVE MEGAWATI” berwarna Pink dan Merah. Ada juga Sticker atas nama ALMADEA (Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi) yang di cetak di atas kertas berwarna silver. Ada juga Sticker atas nama Banteng Muda Indonesia, serta ribuan yang tanpa nama namun hanya berisi kata-kata yang mendukung Megawati.

Malam sekitar pukul 21, biasanya aku bersama 6 atau 8 orang keluar dari base camp sambil membawa 300 an sticker dan mulai menempelkan sticker itu di Bis, Tiang Listrik, Halte dan sebagainya. Yang seru adalah ketika kami menempelkan sticker-sticker itu di ratusan mobil yang parkir sepanjang tempat hiburan malam di Blok M. He he he aku tidak bisa bayangkan bagaimana kesalnya para pemilik mobil itu ketika esok paginya ia melihat ada Sticker “We Love Megawati” di kaca belakang. Tiap kali menempelkan Sticker, aku selalu berucap dalam hati, “Maaf ya Pak!”

Ada Satu peristiwa mendebarkan, ketika aku sedang menempelkan Sticker, aku di hampiri laki-laki yang bertato dan berbadan besar, sepertinya dia yang punya mobil hard top itu. Wah aku sudah gak mungkin sembunyi apa lagi lari, bisa-bisa diteriakin maling. Mau tidak mau ya aku bersandar saja di samping mobil itu, sambil berucap dalam hati “yang terjadi ya terjadilah” sembari mata ku melihat ke kiri kanan mencari peluang kabur jika terpaksa. Aku juga berfikir keras, “laki-laki itu preman, polisi atau apa? Kalo Polisi berapa lama aku akan ditahan karena selembar Sticker itu?” Belum habis berfikir, laki-laki itu sudah di samping ku, matanya dipicingkan membaca sticker ukuran 10 x 10 cm dengan tulisan “WE LOVE MEGAWATI” itu. Suasana menjadi hening. Laki-laki itu diam, lalu menengok ke arah ku dan dengan suara berat, ia bertanya “elu yang tempel sticker ini?” Aku mendongak ke atas, maklum tinggi ku hanya sebatas ketiaknya. Entah bergetar, entah tegas, aku jawab, “Iya!” Laki-laki itu diam lagi…. Beberapa saat kemudian dia bicara lagi, “Masih ada? Bagi dong?” Tanpa perdebatan, aku kasih sekitar 15 an sticker yang tersisa sembari berucap pelan “merdeka!” dan aku ngeloyor pergi.

27 Juli pukul 02 WIB, ada berita via Pager bahwa ada indikasi DPP akan diserbu malam ini. Sebagian kawan-kawan saat itu sedang main kartu seven clever. Ada yang percaya dan ada juga yang katakan “Aaah paling-paling seperti kemarin” beberapa yang lain justeru taruhan apakah akan ada penyerbuan atau tidak? Sekitar pukul 03, masuk lagi pesan ke Pager “Dipastikan tidak ada penyerbuan!” lalu pukul 05, pager kembali berbunyi, “DPP sudah diserbu!”

pukul 05.15 aku dengan satu orang kawan berangkat ke DPP. Sampai di depan Megaria kami sudah terhalang oleh barikade ratusan aparat yang berlapis-lapis. Di beberapa titik terlihat ada kendaraan lapis baja. Dari dalam lingkaran barikade Aparat terdengar suara teriakan-teriakan, jeritan, sorak sorai dan kadang-kadang diselingi lagu Indonesia Raya yang timbul tenggelam. Sementara diluar Barikade ratusan orang yang terus membesar jumlahnya terlihat sudah berhadapan dengan Aparat yang bersiaga dengan beragam jenis senjata. Orang-orang mulai berteriak mengejek Aparat dengan caci maki, sumpah serapah dan sebagainya! Beberapa orang terlihat berorasi, ada juga yang terdiam sambil menangis.

Aku sempat bersandar di pagar besi Megaria, lalu duduk terdiam sekitar 3 menit. Dalam diriku berkecamuk beragam perasaan, mulai dari takut, geram, bigung, sedih semua campur aduk tidak karuan. Hatiku tidak berterima, dan berulang aku berucap kecil, “Ini tidak benar!…ini tidak benar!…. ini kejam,… jahat!” aku tertegun, bingung… dan tidak tahu mau berbuat apa. Kengerian seketika menyergap ku ketika aku berfikir, apa yang terlalu mahal untuk diperebutkan sehingga ratusan aparat harus dihadapkan pada Rakyat… kemudian membunuhi Rakyat. Bukankah sesungguhnya Rakyat haruslah mereka lindungi”. Dibalik perasaan itu, tontonan kekejaman didepan mata memberiku keyakinan berlipat-lipat bahwa sesungguhnya apa yang aku kerjakan membangun perlawanan Rakyat selama ini adalah BENAR se benar benarnya! Saat itu keraguan yang lahir dari dilema antara haruskah kita melawan pemerintah atau patuh, seketika itu hilang entah kemana. Akuk teringat sebuah tulisan yang mengatakan bahwa, di ujung ketakutan adalah keberanian!

Aku lalu berdiri dan bergabung dengan massa yang sudah membesar menjadi ribuan orang. Beberapa saat kemudian Rakyat mulai berinsiatif mengambil batu dan melempari Aparat. Sambil berbaur dengan massa aku kemudian berjalan ke arah belakang menuju kantor DPP PPP. Disitu juga sudah nampak kerumunan ratusan orang yang ternyata sudah saling melempari aparat dengan batu-batu. Sesaat kemudian aku terlibat dalam Intifadah itu. Untuk mencegah laju barisan pemukul aparat, aku dengan 3 orang warga kemudian mendorong sebuah gerobak berisi kertas koran dan kayu serta ranting-ranting pohon. Gerobak kemudian kami bakar lalu kami dorong ke arah Aparat yang sudah berbaris Maju. Rakyat bertepuk tangan dan maju bersama-sama. Tidak berapa lama kemudian terdengar rentetan tembakan. Massa lalu kocar-kacir, Aparat tiba-tiba keluar dari balik asap menyerang dan menyerbu Massa yang kocar-kacir. Aku mundur ke belakang bersama sekitar 10 an orang warga. Aparat menunjuk kami kemudian mengejar kami dengan cepat. Beberapa mengacungkan pistol. Tanpa pikir panjang kami berlari masuk gang-gang kecil di perkampungan warga. Sekitar 10 menit kemudian kami sadari bahwa jumlah kami tinggal bertiga dan Aparat juga sudah tidak lagi terlihat dibelakang kami. Aku duduk di jalan dan berusaha mengatur nafas. Dari samping ku muncul seorang ibu yang kemudian memberiku segelas air putih dingin. Ia kemudian menjelaskan arah paling singkat untuk ke jalan Raya. Aku lihat mimik ibu itu dan keberaniannya memberi kami air minum, dalam hati aku ucapkan “Luar biasa…. Ini benar-benar perlawanan Rakyat, semua bahu-membahu! Sempat terfikir di benakku, Kalau saja Mbak Mega ada dan melihat mimik wajah ibu itu, aku yakin dia akan pingsan, bukan karena takut atau kelelahan, tapi karena keharuan yang luar biasa!”

Setelah berjalan kaki sekitar 5 atau 10 menit, aku kaget ketika kaki ku menginjak batangan rel kereta dan didepan ku sudah ada rangkaian gerbong. Lho, berarti aku sudah sampai di stasiun Manggarai. Kami yang tinggal bertiga memutuskan untuk kembali lagi ke Megaria. Kami menyetop bis ke arah Pemadam Kebakaran di Jatinegara, dari situ kami naik PPD sampai di Lampu merah Salemba.

Perang batu terus berlangsung, suasana hiruk pikuk bersahutan dengan suara tembakan. Kami lari ke LBH Jakarta. Disana sudah ada puluhan aktivis yang terlihat lelah. Didepan pagar ada dua kawan Mahasiswi yang selama ini bersama kami di Posko. Mereka dilarang masuk oleh kawan-kawan di LBH, mungkin karena mereka tidak kenal. Melihat situasi yang semakin tidak jelas, maka aku lari ke gerbang dan membuka gerbang agar mereka masuk. Setelah didalam aku bertanya dimana kawan-kawan kita yang lain. Tetapi mereka juga tidak tahu. Setelah beristirahat sejenak, mereka memberi aku sebuah tas besar, yang ternyata berisi ribuan sticker yang kami buat selama ini.

Sticker aku titipkan pada seorang kawan di LBH. Aku dan dua Mahasiswi itu kemudian keluar dari LBH. Saat itu jalan Diponegoro sudah sangat lenggang. Tidak ada kendaraan lalu lalang. Massa Rakyat juga sudah tidak terlihat baik di Megaria maupun di sekitar Diponegoro. Yang tampak hanya Aparat berseragam dan kelompok-kelompok kecil orang yang kemungkinan adalah intel yang disebarkan. Perjalanan dari LBH hingga ke Pintu masuk Cipto terasa sangat lama walaupun jarak yang ditempuh tidak lebih dari 200 meter. Setiap melewati aparat aku merasakan tatapan mata mereka coba menelanjangi seluruh tubuh, sambil berjalan aku terus berucap “tenang…tenang..” dalam hati.

Sampai di pintu masuk RS Cipto, aku mendengar raungan sepeda motor. aku menengok kebelakang dan tampak sekitar 15 sepeda motor aparat menyisir jalan. Aku masih sempat melihat ada satu orang yang kemudian ditabrak salah satu motor itu. Selanjutnya aku masuk ke lorong-lorong di rumah sakit, melewati kamar mayat, tembus ke kampus kedokteran UI. Keluar dari UI aku melihat kumpulan massa dalam jumlah ribuan bertahan dan sedang terlibat perang batu dengan Aparat. Aku berbaur dengan massa dan berjalan kearah Jalan Paseban. Setelah masuk sekitar 200 meter di Jalan Paseban, aku melihat massa dari arah kampus UI berlarian kocar-kacir. Berikutnya aku mendengar beberapa kali suara tembakan, tidak lama kemudian raungan suara motor memenuhi jalanan. Aku masih berusaha tenang. Tidak lama kemudian di belakang pasukan motor itu tampak dua buah panser berdampingan melaju cepat kearah aku dan massa yang berlarian. Tanpa pikir panjang, aku menarik tangan dua mahasiswi itu dan kami berlari sekencang-kencangnya sampai mendapatkan gang, masuk gang dan terus lari sampai kami kelelahan. Setelah merasa aman, kami mulai berjalan lagi pelan-pelan menuju rumah salah seorang Senior pergerakan di daerah Rawasari. 30 menit kemudian aku sampai kerumah itu, duduk ngobrol sebentar cari tahu informasi… lalu naik kelantai dua dan tertidur sekitar 1 jam. Wah luar biasa peristiwa hari ini.

Pukul 03 WIB, aku sampai di base camp. Disana kawan-kawan sudah berkumpul dan saling bercerita kejadian yang dialami masing-masing selama 24 jam terakhir. Sambil bergantian bercerita kami juga saling bergantian memijat lengan kanan…. Ternyata semua kami ikut tawuran dan sekarang semua persendian lengan kanan terasa sakit. Entah berapa batu yang dilemparkan masing-masing.

SATU SIANG DI CIBENTANG

Ini sudah minggu ke tiga aku di desa Cibentang. Aku dan kawan-kawan mendampingi Warga Cibentang yang desanya akan dilintasi kabel Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). Warga menuntut agar seluruh tanah dan rumah yang dilintasi SUTET dibebaskan dan diberi ganti rugi.

3 minggu ini kami punya pekerjaan rutin. Mulai bangun tidur, mandi, makan lalu kumpul dengan anak-anak muda yang putus sekolah dan tidak bekerja, ngobrol-ngobrol, diskusi atau sekedar main catur, main gitar atau jalan-jalan dipematang sawah. Sekitar pukul 11 kami biasanya sudah berkeliling ke 2 atau 3 rumah warga yang baru pulang dari sawah dan kebun, lalu berdiskusi dengan mereka. Jam 12 atau jam 1 biasanya kami makan siang di sumah warga. Jam 14 an kami sudah pindah ke rumah warga yang lain. Pukul 20 sampai pukul 22 kami diskusi dengan warga di rumah Koordinator warga. Rata-rata tiap malam setelah 15 sampai 20 warga berkumpul, maka diskusi segera dibuka oleh koordinator. Kami kemudian menjelaskan hak-hak warga, bahaya tegangan tinggi, apa itu aksi dan sebagainya. Berikutnya tanya jawab tentang segala hal berkaitan dengan SUTET dan hak atas tanah serta status hukum tanah warga. Selesai diskusi, aku berkumpul dengan anak-anak muda dan biasanyanya kami jalan-jalan mencari dimana ada orang menikah…. Bukan untuk ngintip tapi nonton hiburan yang biasanya di adakan oleh keluarga pengantin. Yang paling assyik kalau ada layar tancap atau dangdutan, yang bikin capek kalau salah satu pasangan dari suku Jawa, karena biasanya nanggap wayang.

Tower SUTET 500 KV sudah berdiri gagah ditengah sawah desa Cibentang. Di wilayah parung masih ada sekitar 8 Tower yang belum dipasang kabel. Perlawanan warga yang begitu gigih telah membuat pemasangan kabel tertunda lebih dari 3 bulan dari jadwal seharusnya. Hari ini, ada informasi bahwa PLN akan datang lagi. Mulai dari anak-anak, remaja, bapak-bapak dan para ibu sudah bersiap-siap menyambut kedatangan PLN dengan demonstrasi.

Siang itu, beberapa kawan Aktivis mahasiswa pulang ke Jakarta. Aku hanya bertiga dengan Yayan dan salah seorang mahasiswa baru. Sekitar pukul 13 WIB, seorang anak kecil melaju cepat dengan sepedanya menuju rumah warga tempat kami berkumpul. Anak itu katakan bahwa dia ngebut memotong jalan lewat pematang-pematang sawah untuk menyampaikan apa yang dilihatnya bahwa ada sekitar 3 truk Polisi dan sekitar 4 mobil PLN serta mobil-mobil Kontraktornya dari PT Bukaka, yang sedang mengarah ke Cibentang. Mendengar informasi itu kami berembug bersama warga. Tidak berapa lama kemudian warga berpencar dan segera disusul dengan bunyi kentongan bersahutan sebagai tanda Aparat dan PLN sudah datang.

Kami bertiga bersama dengan belasan warga berjalan cepat mengambil jalur pintas melewati kebun dan sawah untuk sesegera mungkin mencapai lokasi Tower yang akan di pasangi kabel. Kedatangan kami hanya selisih beberapa menit dengan kedatangan sekitar 150 an aparat polisi bersenjata tameng rotan yang dialiri stroom, pentungan dan belasan senjata laras panjang serta tak terhitung senjata api laras pendek.

Upaya negosiasi sudah bisa dipastikan tidak mungkin ada hasil. Tapi bagaimanapun harus tetap dicoba. Aku coba bernegosiasi agar kabel tidak ditarik hari ini dengan argumentasi bahwa proses hukum atas tuntutan warga sedang dalam proses pengadilan. Dengan demikian maka seharusnya Polisi sebagai penegak hukum menghormati proses hukum dengan tidak melakukan tindakan apapun sampai ada keputusan hukum tetap. Sang komandan lapangan dari Polisi, Cuma katakan singkat “ini perintah!” lalu segera ia menyiapkan aba-aba agar pasukan bersiap. Darahku mendesir, disekililingku ada lebih dari seratus aparat polisi, ratusan warga dan puluhan karyawan PLN serta Bukaka, tidak ada pers, tidak ada siapa-siapa selain dua kelompok yang berhadap-hadapan ditengah rumput dan pepohonan.

Selang beberapa waktu, di pematang sawah sudah terjadi tarik menarik kabel antara warga dengan karyawan PLN, Bukaka serta puluhan aparat Polisi. Tarik menarik terjadi sekitar 10 menit, lalu Komandan lapangan Polisi mengisyaratkan agar kabel dilepas, seketika itu juga ratusan warga di sisi kabel yang lain, terjatuh-jatuh ke lumpur-lumpur sawah. Berikutnya aparat polisi berbaris dan bergerk serentak mendekati warga yang kocar-kacir. Formasi Polisi berubah menjadi Formasi mengepung setengah lingkaran berlapis tiga. Warga kemudian kembali berkumpul dan saling bergandengan tangan menghadang langkah aparat. Aku masih coba melakukan Negosiasi dengan berdiri ditengah antara Warga dan Polisi Tidak berapa lama, dari sebelah kiri Beberapa Polisi memukul salah seorang kordinator warga, Pak Uan. Blam!.. Pak Uan yang berbadan besar itu kemudian terjatuh dan pingsan. Suasana kemudian hening. Selang beberapa detik, dari sisi kanan, Yayan terhuyung-huyung lalu terjatuh sembari memegangi perutnya. Situasi kembali hening. Beberapa warga menggotong Pak Uan dan Yayan ke salah satu rumah terdekat. Kerumunan warga berangsur-angsur bubar dalam, hitungan detik. Aku duduk bersujud ditanah. Wajahku sejajar dengan deretan sepatu Lars dan polisi yang berdiri angkuh. Aku merasakan mataku panas dan berair, jantungku berdegap kencang, tanganku meremas tanah.

Dalam keheningan, tiba-tiba ada teriakan Allahu Akbar!! Allahu Akbar! Yang bersahutan. Aku berusah berdiri dengan lutut gemetar dan aku lihat ratusan warga kembali berdatangan dengan Golok, Cangkul, Linggis, Potongan kayu, Gergaji, Kampak dan berbagai alat-alat bertani dan berkebun ditangan masing-masing. Teriakan Allahu Akbar kemudian saling bersahutan dengan bunyi kentongan membuat warga datang berkumpul semakin banyak.

Aku melihat Polisi mundur sekitar 10 meter kemudian merubah Formasi menjadi berbanjar. Tameng-tameng juga disiapkan, senjata di kokang. Warga berjalan semakin dekat, semakin rapat dengan tangan yang memegang berbagai alat diacungkan tinggi-tinggi. Jarak antara aparat dan warga sekarang tinggal sekitar 6 meter. Aku tetap berdiri dantara Warga dan Polisi yang sudah berhadapan dengan senjata masing-masing. Komandan Polisi datang menghampiri aku, dan berkata dengan suara bergetar “Bagaimana ini pak?” aku hanya diam, jujur saja aku juga bingung menghadapi situasi yang seperti ini. Dalam pikiranku, beberapa menit kedepan pasti terjadi pertumpahan darah. Mungkin akan banyak warga yang gugur, tapi dari polisi juga pasti akan jatuh korban karena warga sudah mengepung dari kiri kanan depan dan belakang. Untuk kedua kalinya, Komandan polisi menanyakan hal yang sama, “Bagaimana ini pak?” sejenak aku tidak menjawab. Selanjutnya aku melihat ke wajah polisi itu dan dengan suara setengah berteriak aku menjawab “Saya tidak tahu…. Kalian yang inginkan ini! Sekarang saya tidak akan ikut campur, apapun yang terjadi ya terjadilah” aku kemudian membalikan punggungku bersiap tinggalkan arena. Tanganku ditarik oleh komandan polisi, dan dia menatap wajah ku “Tolong pak! Bagaimana ini?” ucapnya. Aku menjawab dengan tegas. “Kalau kalian tidak ingin pertumpahan darah, perintahkan pasukan mu menurunkan senjata dan tinggalkan tempat ini!” Sejenak aku bertatapan mata dengan komandan polisi itu. Berikutnya dia membalikan badan dan berjalan sekitar 3 meter kearah pasukan lalu dia memanggil tiga anak buahnya, berbicara sebentar dan berjalan pergi ke arah Mobil dinasnya. Dalam hitungan beberapa menit, seluruh pasukan polisi sudah menurukan senjatanya, lalu berbaris dan mundur ke arah jejeran truk tronton yang mengangkut mereka. Sementara para pekerja PLN dan Bukaka seketika menarik kabel-kabel ke kendaraan yang mereka bawa.

Saat mesin-mesin truk dan mobil dihidupakan, saat itu juga Ratusan warga bertepuk tangan dan berteriak Allahu Akbar! Allahu Akbar! kemudian Aku menghampiri warga dan berpelukan. Aku merasakan mata ku memanas dan ada butiran air mata yang menetes. Aku, menangis. Ini air mata pertama sejak Ayahku meninggal dunia.

Selasa, 27 November 2007

SITUBONDO

Seminggu setelah Kerusuhan Situbondo, gereja-gereja di bakar. Aku datang ke GMKI, dan seperti biasa, GMKI hanya sibuk keluarkan pernyataan. Sementara yang lebih senior kasak-kusuk kumpulkan dana dengan berbagai alasan, untuk tim investigasi, untuk bantuan para korban dan sebagainya. Padahal kalau kita baca koran, pada hari-hari itu, hampir setiap hari kita membaca penryataan ini dan itu dari berbagai organisasi tentang tragedi Situbondo. Aku kecewa sekali, bukankah dengan sekian puluh cabang yang tersebar di Indonesia, dengan sekian banyak Komisariat, dengan sejumlah senior GMKI yang berada di banyak posisi penting, pejabat, pengusaha, tokoh-tokoh, maka seharusnya GMKI bisa berbuat lebih dari sekedar mengeluarkan pernyataan.

Dalam sebuah pertemuan yang di fasilitasi GMKI dan dihadiri oleh PMII, GAMKI, PMKRI dan GMNI aku tawarkan untuk membuat Aksi yang lebih kongkrit. Aku tawarkan untuk menduduki KOMNAS HAM di Jalan Pemuda. Seperti sudah diduga sebelumnya, GMKI menolak usul itu. Yang bersemangat justeru kawan-kawan GMNI dan PMII. Wah sudah terbalik-balik nih. Yang dibakar gereja, kok yang emosi justeru PMII.

Diluar pertemuan, kawan-kawan yang setuju untuk lakukan aksi bertemu di kantin GMKI. Walau tidak disetujui cabang GMKI dan PP GMKI tapi Aku dan Jimmy Matitaputy tidak perduli dan bergabung untuk ikut aksi, sementara itu dari PMII ada si Ucok Sky Kadafi, Arwi Gendut dari GAMKI dan Ajat dari GMNI. PMKRI katakan setuju untuk aksi tapi orang yang akan ikut nanti akan menyusul dan sampai akhir pertemuan orang itu tidak pernah datang.

Kami berlima rencanakan untuk menduduki kantor KOMNAS HAM di Jalan Pemuda, lalu melakukan mogok makan dengan tuntutan agar otak dari kerusuhan segera ditangkap. Malam itu juga kami berbagi tugas. Aku bertugas mencari tenda, Jimmy membuat Poster, Ucok dan Ajat membuat Spanduk, Arwi menghubungi Pers dan membuat pernyataan sikap.

Keesokan harinya aku dapat pinjaman tenda dari Pencinta Alam FH UKI, Cmara Buana. Malamnya kami berkumpul lagi. aku dan Jimmy membuat sekitar 10 poster dari karton, Ucok dan Ajat terlihat lagi assyik menulis spanduk sepanjang 5 meter. Arwi lagi numpang ngetik pernyataan sikap di PP GMKI. Kami sudah bulatkan tekad, untuk Lompat Pagar ke KOMNAS HAM besok pukul 24.00 WIB. Aku sudah hubungi kawan-kawan yang lain untuk bergabung di hari kedua ketika kami sudah bisa memasang tenda di KOMNAS HAM. Hitung-hitung, mungkin dihari kedua akan ada tambahan sekitar 10 – 15 orang mahasiswa dari beberapa Kampus untuk bergabung.

PENDUDUKAN DPR/MPR

18 MEI 1998

PENDUDUKAN DPR/MPR

Huh kalau dingat-ingat bagaimana gagasan menduduki DPR/MPR, kadang kesal dan gemas. Bagaimana tidak, kalau saja hal itu dilakukan lebih terencana, tentu aku boleh berharap ada sesuatu yang lebih yang bisa kita lakukan, tapi bagaimana mungkin itu menjadi rencana bersama jika ide itu saja ditolak oleh banyak kawan-kawan. hmm mungkin saja kemudian sejarah tidak terjadi seperti hari ini. Tapi ya sudahlah, tidak usah disesali. Walaupun tidak menyesali itu bukan berarti tidak boleh kesal toh kalau mengingat rangkaian peristiwa saat itu.

Memang tidak bisa dipungkiri jika saat itu ide menduduki DPR/MPR yang aku tawarkan di Forum FORKOT tidak semudah itu untuk disetujui. Bagiku, perdebatan terhadap ide-ide tentu sah-sah saja tapi yang menyebalkan ketika ide kemudian ditolak, di sanggah tanpa alasan yang jelas selain ketakutan, seperti yang selalu ditebarkan Syafik saat itu, “Lu mau terjadi Tianan Men?” lebih menyebalkan lagi ketika penolakan itu tidak diikuti oleh alternatif tawaran lain yang lebih realistis dan efektif.

SIKAP ELIT YANG PLIN PLAN

Padahal, aku berfikir sangat simple saat itu, pertama, menuju Akhir Desember 1997, gerakan terus membesar dan semakin massif di berbagai kota. Sementara para Elit politik tampak sangat plin plan. Bagaimana tidak, misalnya, ketika Aksi besar di UGM dan ada bendera Bintang Kejora berkibar, Gus Dur lalu bilang kalau Aksi Mahasiswa sudah tidak murni dan baiknya dihentikan. Huh memangnya perangkat organisasi aksi nya terdiri dari tentara yang terorganisir, berdisiplin dan taat komando. Gus Dur harusnya tahu dong kalo aksi-aksi itu digalang komite-komite aksi yang sangat cair, rentan konflik dan bertujuan awal untuk memperbesar barisan perlawanan walaupun dengan konsekuensi kontrol terhadap massa cair yang jadi peserta aksi menjadi sangat lemah. Dalam proses pembesaran gerakan, hal itu toh bisa dimaklumi apalagi dengan minimnya pengalaman aksi massa dalam jumlah besar dari para mahasiswa saat itu karena depolitisasi kampus yang terjadi 32 tahun dibawah rezim Soeharto.

Nah bayangkan, bagaimana kemudian kami harus jungkir balik untuk terus menyusun, mengkonsolidir kampus, massa dan aksi-aksi sementara para elit sesuka-sukanya berbicara dan tidak mau tahu bahwa pernyataan-pernyataan itu sungguh sangat membuat kami harus semakin jungkir balik dan terpaksa berakrobat sebisa mungkin agar pernyataan-pernyataan itu tidak memporakporandakan barisan yang sedang digalang.

Kedua, Aku berfikir bahwa antara Januari 1998 s/d April 1998 posisi Soeharto sedang menuju puncak kritis, ada tekanan internasional, ada kesulitan ekonomi, konflik di elit yang berkepanjangan dan gerakan aksi massa yang terus bergulir membesar. Tetapi walaupun demikian, kita tidak bisa menganggap remeh Soeharto dan think tank nya, mereka punya pengalaman 32 tahun mengelola dan merekayasa keadaan, mereka punya organisasi, mereka punya kontrol kuat terhadap media, mereka punya uang tak terhingga. Jadi kalau tidak segera dirumuskan pukulan-pukulan bernilai strategis maka mungkin dalam beberapa bulan kemudian keadaan akan kembali mampu di kontrol oleh Soeharto. Wah kalau itu terjadi, mau lari kemana kita? Aktivitas gerakan sudah sangat terang-terangan. Bagi para mahasiswa yang baru ikut-ikutan aksi dari tahun 1997 tentu gampang untuk lari bersembunyi atau menyangkal ketika ditangkap dan di interogasi. Elit politik juga tentu dengan mudah didiamkan karena memang watak mereka yang cenderung Pragmatis dan Oportunis. Tapi bagi aku yang sejak 1992 sudah menggalang aksi buruh di PT Total Group di Marunda dan terlibat dalam banyak demonstrasi, rapat-rapat anti Soeharto, Tragedi berdarah 27 Juli dan banyak lagi. Begitu juga dengan beberapa kawan-kawan lain yang punya sejarah perlawanan cukup panjang. Tentu tidak ada pilihan selain melawan sampai habis-habisan karena sudah tidak mungkin lagi bersembunyi, lari atau menyangkal. Nah kalau keadaan kemudian dapat terkontrol lagi oleh Soeharto, jangan anggap remeh, ingat, Soeharto pernah membantai sekitar 2 juta manusia di tahun 1965, jadi tentu maka bukan hal yang berat jika kemudian untuk tumbal kekuasaannya ia membantai lagi 2000 atau 3000 mahasiswa di berbagai kota ditahun ini. Lalu jika ketakutan itu terjadi, ampun bagaimana rasa bersalahku pada kawan-kawan, orang tua mereka dan pada sejarah. Jika itu terjadi mungkin aku tidak akan pernah memaafkan diriku.

Walaupun demikian, kami yakin bahwa sikap plin plan itu mendominasi para elit karena dua hal, pertama mereka toh juga bagian dari orde baru. Kedua, mereka tidak percaya kekuatan Mahasiswa bisa membesar dan berujung pada jatuhnya Seharto. Pada akhirnya nanti, jika kekuatan itu sudah bergerak, maka mau tidak mau, para elit plin plan itu juga akan berubah sikap atau serta merta mereka akan diposisikan secara tegas oleh para mahasiswa sebagai bagian inhern Orba, Soeharto. Kami sadar, jika aksi kami hanya puluhan atau ratusan orang maka para elit itu akan tetap mendukung Soeharo, tapi jika jumlah kami sudah ribuan orang maka elit-elit itu akan memilih diam, Nah kalau aksi kami sudah mencapai belasan dan puluhan ribu maka para elit itu akan bergabung dengan kami. Terakhir jika massa sudah lewat dari 100.000 orang maka tanpa ada yang minta, para elit itu akan menempatkan dirinya seolah pemimpin kami.

SOSIALISASI IDE PENDUDUKAN DPR/MPR

Bagaimanapun sikap para elit itu, Mau tidak mau kita harus rumuskan sesuatu. Mungkin itu bukan yang paling benar, tapi dari pada berjalan dalam kebingungan maka kenapa tidak kita coba rumuskan sesuatu. Dalam satu rapat Forkot, aku katakan “KITA HARUS MENDUDUKI DPR?MPR dan berikuktnya ISTANA!” Sebagian simpul tercengang, sebagian bertanya “kenapa DPR/MPR?” Aku jelaskan bahwa kultur politik dominan di Indonesia adalah kultur yang penuh simbol-simbol. Raja di simbolkan dengan keris, tombak atau senjata pusaka lainnya hingga perebutan kekuasaan selalu di awali dengan perebutan symbol-simbol itu. Nah DPR/MPR adalah symbol kedaulatan Rakyat, sedangkan Istana adalah simbol kekuasaaan. Jadi kalau symbol itu bisa direbut lalu di duduki maka legitimasi Rakyat terhadap Soeharto melalui Pemilu 1997 bisa hancur, setidaknya berkurang. Jika DPR/MPR sudah di duduki maka berikutnya kita harus mampu merebut symbol kekuasaan, symbol puncak sang raja dan itu adalah Istana Negara!

Semua argumentasi itu sudah aku sampaikan berkali-kali sampai bibir ku pegal-pegal, tetapi selalu di tolak oleh beberapa kawan-kawan lain. Kalau aku Tanya pada mereka yang menolak, “Ok Apa Tawaran lu?” mereka selalu jawab “Ya kita pikirkan” lho memangnya kita siapa? Memangnya kita punya kekuatan untuk mengatakan pada keadaan “Keadaan, tolong tunggu ya jangan normal dulu, kami belum bisa rumuskan langkah, masih mikir nih!” atau siapa yang sanggup dari kita untuk mengatakan pada Rakyat dengan muka tegak “Rakyat, sabar ya, bertahanlah dalam kelaparan kalian untuk beberapa waktu, karena kami disini sedang bingung dan terus menerus rapat entah sampai kapan” Kalau kemudian tiba-tiba Amerika melakukan intervensi ekonomi melalui Dollar atau apapun karena tidak menguntungan bagi investasinya jika keadaan terus berlarut-larut, lalu berikutnya keadaan kembali mampu di kontrol Soeharto, lalu apa yang bias kita buat. Hmmm paling-paling saling menyalahkan lalu kabur berpencaran.

Perdebatan tentang ide itu mendominasi hampir tiap rapat forum. Aku tegas bilang bahwa yang terbaik tanggal 19 Mei! Kenapa 19? Aku juga tidak bisa jawab kenapa karena tanggal itu muncul ketika kawan-kawan mendesak menanyakan “Memangnya kapan menurut lu pendudukan itu?” he he he dari pada tidak punya jawaban ya aku jawab saja dengan percaya diri dan tegas “Tanggal 19 Mei!”

Dalam salah satu Forum Forkot di sebuah kampus daerah Rawamangun, kembali perdebatan itu berulang. Aku dan beberapa kawan se ide tetap bertahan untuk menduduki DPR/MPR. Mungkin karena gaya ku yang slengean, jugul dan kata banyak orang selalu mau menang sendiri, maka sebagian kawan-kawan yang memang menolak ide itu semakin kesal. Raymond, mahasiswa dari salah satu kampus dari ISTN , tidak bisa mengontrol kekesalannya pada aku. Dia berdiri dan dengan gemas mencekik leherku sambil berkata “lu gila ya!” aku kaget kok dia marah ya? Sambil cengar-cengir aku jawab “Mond, Kita tidak punya pilihan, Melawan kita Mati, Diam juga Mati, kalau aku memilih mati dalam perlawanan, lebih terhormat! Lu pilih apa?” Sikap Raymond itu membuat kawan-kawan ku dari UKI bereaksi keras. Wah hampir saja berantam antar kampus. Wajar sih walau aku tahu apa yang dilakukan Raymond tidak sungguh-sungguh, hehe aku kenal dia sudah bertahun-tahun, tapi kawan-kawanku kan tidak tahu itu.

Pertemuan berikut di Kampus UKI Cawang di sepakati untuk membuat tim 11 untuk membahas ide pendudukan DPR/MPR. Tim lalu di minta oleh Forum membuat rapat tersendiri di lantai atas Fak Teknik UKI. Perdebatan berlangsung dari siang sampai Maghrib, dan hasilnya terpaksa di voting, 6 : 4, enam menolak, empat setuju, satu Abstain. Huh, Ide ku kalah! Beberapa kawan coba menghibur aku dengan kata-kata “sabar Yan, nanti kita perjuangkan lagi”

Aksi-aksi mahasiswa terus berlanjut, aku dan beberapa kawan dari kampus-kampus yang sepakat ide pendudukan DPR/MPR terus bergerilya mensosialisasikan dan meyakinkan ide itu Ah mudah-mudahan saja situasi kedepan memudahkan kami meyakinkan kawan-kawan yang menolak. Rapat-rapat berikutnya sudah hampir tidak pernah membicarakan ide itu sampai ketika terjadi aksi serentak di 6 titik di Jakarta pada tanggal 2 Mei 1998. Score aksi itu Kampus IKIP menjadi aksi terbesar dengan korban terbanyak, score ke dua di pegang oleh kampus ABA-ABI. Represifnya aparat, banyaknya korban membuat konstalasi forum dalam pertentangan ide pendudukan DPR/MPR sangat terasa. Kampus IKIP, saat itu simpulnya Abdulah yang semula menolak ide itu kemudian berubah drastis, berbalik mendukung walaupun tidak ada pernyataan tegas melalui Forum. Tetapi pernyataan-pernyataannya dalam forum Forkot semakin progresif, begitu juga Lutfi sebagai simpul ABA-ABI, sebelumnya mereka setengah setuju, setengah menolak, sekarang bulat semuanya setuju.

Ide itu semakin diterima ketika pada hari-hari berikutnya Represifitas Aparat terhadap gerakan mahasiswa dalam aksi-aksi massa semakin meningkat. Walaupun persetujuan terhadap ide itu tidak pernah disepakati dalam forum tapi aura persetujuan itu sangat terasa.

Ketika terjadi penembakan mahasiswa di Trisakti, lalu terjadi kerusuhan di berbagai wilayah Jakarta, maka saat itu aku dan kawan-kawan yang se ide semakin gencar mensosialisasikan ide itu dari simpul ke simpul. Persetujuan melalui Forum tetap tidak mungkin dilakukan karena akan memicu eksistensi simpul-simpul yang sejak awal menolak keras ide itu. Tetapi aku yakin se yakin-yakinnya, keadaan beberapa hari ke depan akan berpihak pada ide itu.

Antara tanggal 15 atau 16 Mei ada Rapat FKSMJ di IKIP Rawamangun yang mengangkat Henry Basel menjadi koordinator FKSMJ. Dalam pertemuan itu mereka juga membahas ide pendudukan DPR/MPR yang konon akan dilakukan Forkot pada tanggal 19 Mei. Rupanya kawan-kawan FKSMJ tidak tahu kalau ide itu sudah di tolak oleh Forum Forkot Hasil Rapat FKSMJ saat itu salah satunya memutuskan untuk mengirikan delegasi ke DPR/MPR satu hari sebelum 19 Mei yaitu tanggal 18 Mei. Informasi ini disampaikan pada aku oleh simpul Univ Mpu Tantular, Raya dan kawan-kawannya beberapa jam setelah rapat FKSMJ selesai.

Ops… ini baru seru! Sejarah bekerja dengan cara yang tidak terduga! Berbekal informasi itu, aku sebagai Simpul UKI dan kebetulan Posko Forkot saat itu di kampus UKI Cawang, mengundang kawan-kawan Simpul kampus-kampus lain untuk segera membuat pertemuan malam itu juga. Saat itu dalam Psikologi para simpul Forkot memang ada rivalitas tak terlihat antara FKSMJ dan Forkot. Jadi ketika informasi itu disampaikan di Forum Forkot maka disepakatilah untuk ke DPR juga pada tanggal yang sama tetapi datang lebih pagi. Kampus-kampus yang semula menolak ide menduduki DPR/MPR pada saat itu setuju ide untuk ke DPR tapi tetap tidak ada pembicaraan untuk menduduki. Walaupun demikian hasil gerilya ide dalam beberapa waktu terakhir dan didukung oleh situasi yang memacu semangat dan kemarahan para simpul menujukan bahwa ide pedudukan DPR/MPR itu diterima tapi tidak perlu melalui kesepakatan untuk menghindari perdebatan-perdebatan apalagi situasi di luar sana memaksa kita untuk bergerak lebih cepat dan mengurangi diskusi-diskusi. Berikutnya disepakati setiap kampus mengirimkan minimal 10 orang pelopornya yang paling nekad ke Gedung DPR/MPR pada tanggal 18 Mei 1998 pukul 9 pagi, dengan catatan jika sampai jam 11 siang kondisi komdusif untuk mobilisasi lebih besar maka setiap kampus harus segera memobilisasi massa nya.

Malamnya aku dan kawan-kawan diskusi kecil untuk coba menghitung segala kemungkinan yang terjadi besok. Rapat internal KM UKI menyepakati tidak ada pembatasan mobilisasi dari Basis UKI untuk datang ke DPR/MPR 18 Mei besok, jadi dari UKI kami hitung besok pagi sudah siap minimal 70 an orang untuk jadi pelopor. Wah deg deg syurrr nih

Detik-detik menegangkan terjadi juga. Pagi itu sekitar pukul 08.45 WIB aku sampai di depan gerbang DPR/MPR dengan beberapa kawan. Di pinggir jalan tampak kawan-kawan dari berbagai kampus dalam kelompok-kelompok kecil yang terpisah-pisah seperti orang-orang yang menunggu angkutan. Kalau dilihat sepintas memang seperti tidak ada apa-apa, tetapi jika diperhatikan baik-baik wajah satu persatu maka tidak bisa dipungkiri bahwa kami semua tegang. Bagaimana tidak, Jakarta saat itu benar-benar seperti lapangan tempat gelar pasukan, di mana-mana ada tentara berseragam dan bersenjata lengkap. Sebagian bahkan tidak tampak tanda pangkat, kesatuan, nama dan atribut-atribut yang dapat di identifikasi karena tertutup mantel ponco bercorak loreng kecoklatan.

Sekitar pukul 09.00 WIB, perangkat aksi segera mengumpulkan kelompok-kelompok kecil itu menjadi sebuah kerumunan besar, sekitar 800 an mahasiswa. Beberapa mahasiswa kemudian membuka tasnya dan mengambil jaket almamater serta mengenakannya. Mobil yang melintas serta merta melambatkan lajunya, membuka kaca dan melambaikan tangan sembari berteriak “Hidup Mahasiswa!” Supir bis, truk dan taksi menyampaikan dukungan dengan membunyikan klakson. Kondektur dan penumpang bis mengacungkan jempol atau sekedar melambaikan tangan. Ah rasanya bangga sekali ketika melihat dukungan Rakyat yang sangat luar biasa.

Semakin siang, kerumunan sudah semakin membesar. Sekitar jam 12 WIB jumlah massa sudah mencapai sekitar 3000 an orang dan terlihat akan semakin bertambah banyak, karena setiap bis yang melintas bisa dipastikan berhenti dan menurunkan 4 atau 5 mahasiswa yang segera bergabung membuat barisan semakin besar dari menit ke menit. Luar biasa, dari perkiraan awal jumlah massa sekitar 600 orang, ternyata kini membengkak menjadi ribuan orang. Para simpul kampus terus sibuk berkomunikasi dengan basis-basisnya untuk terus memobilisasi massa. Massa terlihat semakin ramai karena puluhan bahkan mungkin ratusan wartawan dalam dan luar negeri juga berada di sekitar kerumunan massa.

Sekitar pukul 13 WIB aku melakukan lobby dengan tentara yang pangkatnya paling tinggi di lapangan, seingatku namanya Bambang. Negosiasi berjalan alot. Tentara tetap tidak mengijnkan kami masuk. Orasi dari tengah-tengah massa juga terus dilakukan bergantian dengan orator dari berbagai kampus. Setelah negosiasi sepertinya tidak menunjukan titik temu, maka aku mulai bersikap lebih nekad. Aku katakan pada Tentara Bambang, “Begini pak, massa akan terus bertambah setiap detik, Bapak punya 3 pilihan, Pertama membiarkan massa tetap berada di luar gedung dan tidak akan mampu mengkontrol luapan yang terus bertambah. Kedua, membubarkan massa dengan paksa dan itu akan berujung pada benturan bahkan mungkin kerusuhan. Ketiga, Membuka pintu gerbang dan memiarkan massa masuk ke dalam.

Tentara bernama Bambang, kemudian minta waktu 5 menit untuk menyampaikan permintaan kita ke komandannya. Lima menit kemudian dia menghampiri aku dan menyampaikan bahwa Massa Mahasiswa bisa masuk tetapi gerbang hanya akan dibuka selebar 1 meter. Gerbang dibuka, he he he Cuma 1 meter. Aku kemudian mengambil posisi menyeleksi massa yang masuk. Setelah sekitar 2 atau 3 kampus masuk, di tengah-tengah massa ada puluhan orang yang mengikat pangkal lengan atasnya dengan kain berbentuk segitiga. Wah apa-apa an itu? dari mana mereka? Kita tidak punya kesepakatan mengunakan atribut atau simbol-simbol, terkecuali jaket almamater. Kekhawatiranku terhadap adanya infiltrasi di massa semakin tinggi ketika jumlah massa yang mengenakan atribut segitiga di lengan kanannya semakin besar, mungkin berjumlah 100 sampai 200 orang. Mau tidak mau, aku meminta perangkat aksi untuk menahan massa dengan atribut itu agar tidak masuk ke dalam gedung DPR dan memisahkan mereka dari barisan massa. Tidak lama kemudian salah seorang mahasiswa menghampiri aku dan membawa beberapa kain segitiga itu. Dan di kain tersebut tertuli “KAMMI” oh ternyata mereka dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia.

Tidak berapa lama kemudian beberapa mahasiswa dari KAMMI menghampiri aku dan melakukan negosiasi agar mereka juga boleh masuk ke gedung DPR. Setelah berdebat cukup lama maka akhirnya diambilah dua kesepakatan, pertama, semua mahasiswa KAMMI melepaskan dan mengumpulkan atribut kain segitiga itu dan menyerahkan pada teklap-teklap Forkot. Kedua, seluruh mahasiswa KAMMI yang masuk harus ikut dalam komando perangkat aksi Forkot.

Situasi begitu tegang, mau tidak mau barisan harus disolidkan jangan sampai ada agenda tersembunyi yang berbeda dari barisan massa। Jangan sampai ada manuver-manuver yang membahayakan massa.

PENDUDUKAN DPR…. (lanjutan)

Ribuan massa memulai masuk ke halaman gedung DPR/MPR. Diantara aliran massa itu ada sekitar 60 an mahasiswa mahasiswa berjaket kuning yang memisahkan diri dari barisan dan membuat iring-iringan tersendiri merjalan kearah gedung DPR/MPR. Apa yang sering dikatakan para Aktivis Senior bahwa UI selalu saja menjadi kolaborator elit sepertinya memang benar. Memang kalau kita coba bedah sejarah mulai dari tahun 1966, 1974 dan seterusnya, Gerakan mahasiswa UI tidak pernah menjadi gerakan Mahasiswa Independen, UI selalu menjadi “kaki” dari elit yang bertikai.

Melihat adanya manuver mahasiswa UI yang menumpang masuk DPR dari barisan Forkot dan memisahkan diri setelah berhasil masuk, membuat sebagian kawan dari beberapa kampus antara lain Atmajaya, ISTN, IKIP, IAIN dan UKI terlihat emosi lalu mengejar mahasiswa-mahasiswa UI itu. Dalam hiungan 3 – 5 menit terjadi saling kejar dan sempat terlontar beberapa botol aqua ke arah mahasiswa UI. Mahasiswa UI kemudian berhamburan secepatnya ke arah gedung DPR/MPR. Aksi kejar-mengejar berhenti setelah para teklap menghadang massa yang mengejar dan meminta agar kembali ke barisan.

Massa berhasil dirapatkan kembali dalam barisan yang solid dengan teklap yang berpegangan tangan mengelilingi barisan. Massa kemudia berhenti di samping depan bawah undakan tangga gedung kubah. Orasi dan lagu serta puisi terus dibawakan bergantian. Beberapa mahasiswa terlihat keluar dari barisan dan menaikan sebuah spanduk bertuliskan “TURUNKAN SOEHARTO - BUBARKAN DPR/MPR” beberapa detik ketika spanduk itu sudah naik biatas dan tiulisannya terlihat jelas, ratusan aparat militer bersenjata lengkap yang mengepung barisan massa serentak mengokang senjatanya… bunyi kokangkan senjata serentak itu membuat suasana hening seketika. Ratusan senjata terkokang itu kemudian diarahkan ke massa. Hampir bersamaan, puluhan wartawan yang berada disekitar barisan terlihat berlarian ke arah tangga, sepertinya mereka juga tidak mau menjadi korban ketika ada random shooting dari tentara.

Teklap disekeliling barisan segera berpegangan tangan, sementara sebagian massa memilih bertiarap, sebagian lagi tetap berdiri…. Tapi luar biasa, tidak satupun dari massa yang lari dari barisan. Aku sepertinya bisa mendengar dengan jelas detak jantung ku sendiri. Iwan Sumule kemudian menghampiri aku dan berbisik, “Yan, magazinnya peluru tajam, bagaimana menurut lu?” aku menjawab “dari mana lu tahu?” Masih setengah berbisik Iwan katakan, “di magazinnya ada strip merah” untuk beberapa saat aku terdiam, kemudian aku katakan pada Iwan, “Kalau ini takdir, ayo kita jalani!” setelah itu aku berjalan berkeliling massa sambil berorasi “Jangan takut kawan-kawan, apa yang kita lakukan adalah benar, kalau untuk Republik untuk Rakyat kita harus mati, maka itu akan menjadi kematian yang terindah!” aku mengucapkan itu berkeliling dan berebutan suara dengan komando yang berada di depan yang terus memimpin dinamisasi massa agar tidak terjebak dalam ketakutan.

Sementara itu tim lobby bernegosiasi dengan pihak Tentara. Setelah melakukan negosiasi yang cukup alot akhirnya disepakati bahwa Tentara akan menurunkan senjatanya setelah kawan-kawan menurunkan spanduk yang terbentang diatas jejeran tiang bendera. Dalam beberapa menit kemudian ketika spanduk diturunkan dan diikuti oleh tentara yang menurunkan senjatanya, aku mendengar ratusan desahan nafas lega…”ahaaaah…”

Para simpul kemudian berkumpul di tangga gedung kubah untuk melakukan konfrensi pers. Saat konfrensi sendang berlangsung, kembali para wartawan berlarian ke arah gedung DPR/MPR. Aku minta kawan-kawan untuk segera cari tahu ada apa. Seketika aku langsung berfikir, jangan… jangan… Tidak sampai 2 menit, kawan-kawan mengabari aku dan mengatakan bahwa Amien Rais akan keluar dari gedung DPR?MPR dan menemui mahasiswa. Tidak bderapa lama kemudian, seseorang yang mengaku utusan Amien Rais menemui kami dan menyampaikan pesan bahwa Amien Rais mau berorasi didepan massa. Aku segera berembuk dengan kawan-kawan simpul dan kami semua sepakat untuk menolak Amien Rais berorasi di depan massa. Kesepakatan itu kami sampaikan pada utusan Amien Rais. Sebelum pergi kembali ke gedung, utusan Amien Rais sempat bertanya dalam kebingungan, “Lho memangnya mahasiswa yang di dalam dan yang di luar itu berbeda ya?” beberapa kawan-kawan simpul coba menjelaskan bahwa dari Forkot tidak ada yang kedalam gedung DPR/MPR. Masih dengan wajah yang bingung, utusan Amien Rais kemudian bergegas kembali ke gedung DPR/MPR. Berikutnya kawan-kawan simpul kembali berbaur dalam barisan.

Beberapa menit setelah utusan Amien Rais pergi, aku mendengar suara riuh dari arah gedung DPR/MPR yang diikuti dengan beberapa wartawan yang berlari-lari kearah gedung. Tidak beberapa lama kemudian tampak puluhan orang berjaket kuning yang bercampur wartawan berkerumun sembari berjalan… ternyata ditengah wartawan itu ada Amien Rais. Amien Rais kemudian keluar dari kerumunan dan menghadap pada barisan massa Forkot sampil mengangkat kedua belah tangannya ke atas. Massa serentak melihat kearah Amien Rais dan saling bisik “itu siapa?”, “dia mau apa?” lalu Amien Rais naik ke atap mobil kijang. Di atas mobil Kijang Amien Rais sambil menghadap ke barisan Forkot ia kembali mengangkat kedua tangannya. Saat itu peluhan kilatan lampu blitz kamera terlihat menyala bergantian. Entah komando dari mana, puluhan mahasiswa dari Forkot keluar dari barisan dan berlarian ke arah Amien Rais, tidak berapa lama kemudian, beberapa botol Aqua terlihat berterbangan ke arah Amien Rais. Tidak sampai 2 menit kemudian Amien Rais sudah turun dan kembali ke dalam gedung DPR/MPR sebelum sempat berbicara sepatah katapun.

Setelah kericuhan itu reda, aku coba bicara dengan beberapa simpul kampus yang mahasiswanya tadi berlarian kearah Amien Rais. Beberapa simpul menggerutu “Enak saja, emangnya Amien Rais itu siapa?” Ada juga yang mengatakan “Dia juga kadernya Soeharto” ada juga simpul yang katakan “Kita yang terancam nyawa lalu mahasiswa UI yang negoisiasi!” beberapa simpul yang juga masih emosional mengatakan “Kita yang kumpulkan kawan-kawan kok Amien yang mau untung!” Aku tidak mengomentari apapun tapi aku sangat mengerti emosi kawan-kawan. Perjalanan panjang dan keras yang dibayang-bayangi saat menggalang kampus demi kampus berbulan-bulan dan bentrokan berkali-kali di Universitas Sahid, ABA-ABI dan IKIP yang memakan korban ratusan mahasiswa luka tentu membuat kawan-kawan seperti singa lapar yang gampang marah. Sensitif dan emosional.

Seluruh Teklap bekerja keras dan sungguh-sungguh. Massa sangat tertib dan bersemangat. Orasi diikuti dengan tekun, yel-yel diteriakan serentak, lagu dinyanyikan dengan keras dan berbarengan. Harus diakui, situasi represif dan aksi yang intensif dengan bentrokan yang berkali-kali membuat para Teklap menjadi ekstra ketat dan waspada terhadap segala kemungkinan. Beberapa tokoh melalui utusan utusan masing-masing meminta waktu untuk mengisi orasi. Tetapi tidak satupun yang diterima. Kekesalan kawan-kawan selama ini pada para elit yang plin plan dan cari aman mebuat kawan-kawan sangat alergi ketika ada elit politik yang coba “mendekat”.

Bisa dipahami memang, kawan-kawan merasa sendirian tidak ada suport dan dukungan yang jelas dari para elit politik. Rata-rata simpati datang dari para dosen, alumni, dan para aktivis senior serta segelintir ilmuwan. Tentu situasi itu berbeda jauh dengan gerakan 1966 yang didukung penuh oleh Militer, khususnya angkatan darat. Bahkan menurut banyak literatur, dukungan itu tidak hanya berupa pernyataan politik tetapi dukungan mulai dari mobilisasi yang menggunakan truk-truk tentara, perlindungan, makanan, uang dan sebagainya. Bandingkan dengan aksi 1998, sampai kami masuk ke DPR hari ini pun tidak ada satu gelas Aqua yang diberikan pada kami.



Wawancara - Der tagesspieggel

DER TAGESSPIEGGEL

6 August 2001

"Das alte Regime ist zurück", sagt Adian Naputulu von "Forkot", der radikalsten Studentenbewegung Indonesiens. "Mit dieser Regierung wird nichts passieren: keine Gerechtigkeit, keine Demokratisierung, kein Ende der Menschenrechtsverletzungen", glaubt er, "wer Unrecht von gestern akzeptiert, wird es morgen nicht verhindern." Vor drei Jahren waren er und seine Kommilitonen auf der Straße. Sie halfen, Suharto zu stürzen. Adian wurde geschlagen und verhaftet, andere starben, als Soldaten in die Menge schossen. Diesmal blieben fast alle Studenten zu Hause, obwohl sie wussten, was der Machtwechsel bedeutet. "Wir hätten es verhindern und Neuwahlen fordern müssen. Es ist eine Schande! Die Bewegung ist gespalten. Und manche sind bezahlt worden. Deshalb hielten sie still oder demonstrierten sogar für den Wechsel."

Wawancara - Reuters

REUTERS

12 Mei 2000

Indonesian students to rally on riot anniversary

JAKARTA: Indonesian students plan to take to the streets of Jakarta on Friday to mark the second anniversary of the bloody riots that helped oust President Suharto.

"There will be several protests tomorrow. Students will rally at the palace, parliament and Cendana (Suharto's home)," Adian Napitupulu of the radical City Forum student group told Reuters.

"We are taking to the streets as we realise there are no meaningful changes for the people in the reform process. Up until today, not a single corruptor, human rights violator, has been arrested and brought to trial," he added.

Last month, Suharto was banned from leaving the country and confined to Jakarta as the Attorney-General's office investigate allegations that he corruptly amassed a fortune during his rule.

Suharto's 32-year, army-backed rule ended on May 21, 1998 amid social and economic chaos and protests by tens of thousands of students demanding democratic reform.

More than 1,000 people died in rioting that broke out in Jakarta on May 12. Large parts of the city were in flames as mobs embarked on an orgy of arson and looting.

The violence lasted three days and spread to several cities.

Ethnic Chinese, who make up less than three percent of the population but are perceived as controlling much of the country's wealth, were targeted in much of the mob violence.

The riots were sparked by the death of four students from Trisakti University who were shot dead by security forces during a demonstration calling for Suharto's ouster.

Nine days later, Suharto stepped down and appointed his protege and then Vice-President, B.J. Habibie, as his successor.

Habibie was replaced by President Abdurrahman Wahid in an election in October last year.-Reuters

Wawancara - UTUSAN ONLINE (UTUSAN MALAYSIA)

UTUSAN ONLINE (UTUSAN MALAYSIA)

November 16 2007

But many of the country's more than 147 million voters remain undecided. A survey by the International Foundation for Electoral Systems in December and January found 49 percent of Indonesians have not settled on a party.

Many Jakarta residents have told AFP they won't bother voting because politicians care only about themselves, not the people.

``They see that the election will not provide them with a way out of their everyday problems,'' said Adian Napitupulu, 32, who has been fighting for political change through the City Forum activist group since 1998 when a mass student movement helped topple Suharto.

Napitupulu said Megawati has not spoken out on issues affecting the poor. ``So what wong cilik is Megawati struggling for? She isn't.''

Napitupulu predicts Golkar will win the general elections because of the weakness of the pro-democracy movement, but that Megawati will be re-elected president.

Wawancara Media - SOC Culture Vietnam

SOC Cultur Vietnamese:

“………….Trong khi nhie^`u nho'm sinh vie^n no'i ra(`ng ho.
va^~n tin ra(`ng ho. dda.i die^.n "lu+.c lu+o+.ng
ddu'ng nghi~a va` co' dda.o ddu+'c" cho vie^.c ca?i
to^? trong nu+o+'c. Nho'm "Forkot", mo^.t trong nhu+~ng
nho'm tie^n phong cu?a sinh vie^n tha`nh la^.p trong
nhu+~ng nga`y so^i ddo^.ng cu?a nhu+~ng tha'ng dda^`u
na(m 1998, cho la` mo^.t "lu+.c lu+o+.ng ddu'ng nghi~a
va` co' dda.o ddu+'c" gio^'ng nhu+ ca^u tha^`n chu' cho
phong tra`o sinh vie^n. Do ga(.p go+~ trong ca'c cuo^.c
bie^?u ti`nh tre^n ddu+o+`ng pho^', nho'm Forkot na`y
go^`m 28 tru+o+`ng cao dda(?ng o+? Jakarta no'i ra(`ng
quan ddie^?m cu?a ho. trong va^'n dde^` o^ng Wahid co'
ne^n tu+` chu+'c hay kho^ng la` trung ho`a. Trong
nhu+~ng va^'n dde^` kha'c nhu+ gia ddi`nh Suharto,
nhu+~ng tha`nh vie^n cu?a Forkot na`y cu~ng ddu+'ng
rie^ng re~ va` kho^ng quan ta^m dde^'n. Nhu+~ng cuo^.c
bie^?u ti`nh ne'm dda' cu?a nho'm Forkot cho^'ng la.i
Suharto va` dda?ng Golkar ca^`m quye^`n tru+o+'c dda^y
la`m cho nhie^`u ngu+o+`i kho^ng xa la. vo+'i ca'ch
thu+'c bie^?u ti`nh dda^`y ba.o lu+.c do nho'm na`y
ddu+a ra.

Vo+'i bie^.t danh la` nhu+~ng ngu+o+`i bie^?u ti`nh
chai li` tru+o+'c nhie^`u tra^.n chie^'n dda^'u, pha't
ngo^n vie^n cu?a Forkot la` Adian Napitupulu, 28
tuo^?i, kho^ng he^` ca?m tha^'y danh tie^'ng "ke? xu'i
giu.c ba.o ddo^.ng chi'nh tri." cu?a nho'm mi`nh la`
ddie^`u dda'ng pha?i xin lo^~i. Napitupulu no'i ra(`ng:

- "Vo+'i che^' ddo^. "mu` lo`a va` ddie^'c dda(.c" thi`
kho^ng the^? na`o dda^'u tranh ba(`ng lo+`i no'i
ddu+o+.c ma` pha?i xu+? du.ng ba.o lu+.c."

Pha't ngo^n vie^n Napitupulu dda~ ddo^? thu+`a ra(`ng
chi'nh vu~ lu+.c ma` ca?nh sa't xu+? du.ng dde^? ddo^'i
pho' vo+'i ca'c nho'm bie^?u ti`nh dda~ la`m nho'm
Forkot na`y mang danh tie^'ng nhu+ va^.y. Va` phu+o+ng
ca'ch xu+? du.ng ba.o lu+.c dde^? dda^'u tranh dda~
la`m cho ho+n 100 sinh vie^n pha?i va`o bi.nh vie^.n
khi nho'm na`y ddu.ng ddo^. vo+'i ca?nh sa't.
Napitupulu gia?i thi'ch, minh ho.a cho ddu+o+`ng lo^'i
dda^'u tranh va` sa'ch lu+o+.c vo+'i nhu+~ng nhu+~ng
die^m que.t va` tro^ng anh gio^'ng nhu+ mo^.t vi.
tu+o+'ng ho+n la` nha` hoa.t ddo^.ng chi'nh tri..
Napitupulu no'i:

- "Nho'm chu'ng to^i tro+? ne^n ba.o ddo^.ng khi chu'ng
to^i ddu.ng ddo^. vo+'i ca?nh sa't."

DDo^'i vo+'i Forkot thi` sinh vie^n ba.o ddo^.ng chi?
la` va^'n dde^` cu?a vie^.c tu+. ve^. ma` tho^i.
Nhu+~ng tha`nh vie^n trong nho'm na`y nha^.n thu+'c
ra(`ng ca'c ca?nh sa't thu+o+`ng ta^'n co^ng khi ca'c
sinh vie^n dda~ qua' me^.t va` kho^ng the^? na`o kha'ng
cu+. la.i, do ddo' phu+o+ng cha^m cu?a nho'm Forkot la`
ta^'n co^ng tru+o+'c dde^? gia?m so^' lu+o+.ng sinh
vie^n bi. thu+o+ng.

Cha('c cha('n la` vie^.c kho^ng tua^n thu? theo ca'c
lua^.t le^. xa~ ho^.i cu~ng ddu+o+.c ti`m tha^'y trong
nho'm sinh vie^n dda^`y ba.o lu+.c na`y. Ta.i to^?ng
ha`nh dinh cu?a nho'm sinh vie^n chi'nh tri. Forkot,
tru+o+'c lo^'i va`o, ngu+o+`i ta tha^'y mo^.t bie^?u
ngu+~ dde^` "To`a a'n cu?a con ngu+o+`i". No+i dda^y
ho+n bo^'n chu.c tha`nh vie^n Forkot ddang chu'c tu.ng
va` vo^~ tay khi nghe nho'm cu?a ho. ddu+o+.c mo^ ta?
nhu+ nhu+~ng ke? bie^?u ti`nh "ca^'p tie^'n".

Nhu+ng nhie^`u nho'm sinh vie^n ta'ch ra kho?i Forkot
dda~ chi? tri'ch nhu+~ng ha`nh vi kho^ng tua^n thu?
theo lua^.t le^. xa~ ho^.i cu?a nho'm Forkot na`y.
Jimmy nha^.n xe't ve^` nho'm Forkot:

- "Forkot va^~n chi? la` mo^.t nho'm sinh vie^n bie^?u
ti`nh va` dda~ kho^ng theo dduo^?i mu.c ddi'ch va` kha?
na(ng dde^? pha't trie^?n tha`nh mo^.t lu+.c lu+o+.ng
vu+~ng ma.nh trong phong tra`o sinh vie^n hie^.n nay."

Va` cu~ng chi'nh vi` mo^'i nghi ngo+` ve^` vie^.c ca'c
chi'nh tri. gia gia^.t da^y cho ca'c nho'm sinh vie^n
bie^?u ti`nh va`o na(m 1998 cuo^'i cu`ng dda~ pha' vo+~
su+. ddoa`n ke^'t cu?a ca'c sinh vie^n. Nhu+ng nhie^`u
nho'm sinh vie^n trong ddo' co' ca? Forkot go.i nhu+~ng
ddie^`u ca'o buo^.c sinh vie^n co' mo^'i quan he^.
ddo^'i vo+'i ca'c chi'nh tri. gia la` mo^.t su+. lo^'
bi.ch va` ngo+' nga^?n……”

Senin, 26 November 2007

Wawancara Media - Gusdur.net


DISKUSI PANEL DENGAN GUS DUR
Tanggal 11 Agustus 2005, Jakarta Media Center
PERLU ADA KEKUATAN ALTERNATIVE SELAIN EXECUTIVE DAN LEGISLATIVE
Jakarta, gusdur.net


Kondisi obyektif rakyat Indonesia yang terus dilanda multikrisis sebagai akibat gagalnya
elite elite politik Indonesia yang duduk di eksekutif dan legislatif mengemban amanat rakyat.
Oleh karena itu perlu dibentuk sebuah kekuatan alternatif yang melibatkan seluruh komponen rakyat di luar kekuasaan Megawati, Hamzah Haz, Amien Rais, Akbar Tandung maupun Yusril Ihza Mahendra. Demikian intisari dari diskusi Pembentukan Front Demokratik Sebagai Solusi Bagi Rakyat Indonesia. Sebagai pembicara dalam diskusi itu, Ketua Dewan Syuro PKB, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Indonesianis dari USA, Jeffrey Winters, pengamat ekonomi, Revrisond Baswir, insan pers, Aristides Katoppo, Indonesianis dari Australia, Max Lane, aktifis Forum Kota, Adian Napitupulu, Ketua KAMMI, Akbar Zulfikar, Ketua FNPBI, Dita Indah Sari dan Sekjen PRD, Natalia Scholastika. Acara itu diselenggarakan di Jakarta Media Center, Jakarta Kamis (11/7) siang.

"Tapi apakah model (gerakan) itu dalam bentuk revolusi? Saya berbeda pendapat. Lebih penting bagi saya, kita diskusikan dulu mengenai bentuk yang dapat kita pakai. Kita cari dulu formatnya," kata Gus Dur.

Gus Dur berpendapat dirinya sejak dulu tidak setuju perubahan dengan jalan revolusi. "Strategi saya perubahan gradual. Karena bangsa ini sangat heterogen," kata Gus Dur. Sebab pengertian revolusi belum sama. Samakan dulu, baru kita tentukan revolusi atau tidak," ujar Gus Dur.

Mengenai tuntutan pembentukan kekuatan alternatif di luar pemerintah dan parlemen, Gus Dur menegaskan hal itu penting. "Tapi harus dibicarakan segala sesuatunya agar kita tidak terjerumus dalam perangkap musuh," kata Gus Dur.

Gus Dur berpendapat orang yang mempunyai fikiran perubahan dapat menjadi anggota kekuatan alternatif. "Karena kalau ini nggak boleh itu nggak boleh, berarti saya juga nggak boleh ikut. Saya anggota MPR buatannya Soeharto," aku Gus Dur mengundang tawa.Perlu ada pembahasan susulan untuk strategi sosialisasi pembentukan kekuatan alternatif itu kepada rakyat. "Jangan terburu-buru yang penting perbanyak dialog terus menerus," kata Gus Dur. Diakhir pemaparannya dia berpendapat bahwa kondisi saat ini belum matang untuk mengadakan sebuah gerakan yang radikal. "Memang DPR di mata anda (kaum intelektual dan mahasiswa) kehilangan kredibilitas. Tapi di mata rakyat (kredibilitasnya-red) masih ada,” ujar Gus Dur di depan peserta yang tercenung mendengar kenyataan itu.





Wawancara Media - Radio Netherland

Warta Berita Radio Netherland

13 Maret 2003
Sedangkan Adian Napitupulu dari Forkot menegaskan mahasiswa perlu dukungan kelompok-kelompok lain, seperti buruh, tani dan nelayan. Adian Napitupulu:"Potensi kolaborasi itu jauh lebih besar pada gerakan mahasiswa sekarang. Karena mereka bergerak dari struktur-struktur lembaga kampus. Sementara kita tahu bahwa sturktur yang hirarkis dan berhubungan erat antara lebaga-lembaga formal kampus dengan pimpinan-pimpinan perguruan tinggi. Dan pimpinan-pimpinan perguruan tinggi itu secara otomatis dia punya hubungan dengan kekuatan-kekuatan politik tertentu. Nah berangkat dari situ, sebenarnya kita merasa menjadi penting untuk melakukan re-devinisi gerakan mahasiswa itu seperti apa. Apakah kemudian gerakan-gerakan yang berangkat dari onderbouw partai politik. Seperti KAMI yang onderbouw Partai Keadilan itu, bisa dikatakan sebagai gerakan mahasiswa atau gerakan partai politik yang berbasiskan mahasiswa? Nah harus ada pelurusan terhadap itu, sehingga tidak ada kerancuan, mana gerakan mahasiswa dan mana sebenarnya partai politik. Sehingga tidak kemudian masing-masing berfikir bahwa yang ini kolaborasi dengan kekuatan politik, sementara sebenarnya yang potensial kolaborasi adalah mereka yang dari onderbouw partai kan."

Warta Berita - Radio Netherland, 25 Mei 200

Radio Nederland Berita list manager
Thu, 25 May 2006 07:20:00 -0700

Adian Napitupulu, bekas aktivis 1998 dari Forum Kota menilai, sewindu gerakan reformasi belum membawa perbaikan nasib rakyat, seperti petani dan kaum buruh. Adian Napitupulu: Sampai delapan tahun reformasi tidak ada perubahan yang berarti buat mereka. Kalau buat Gus Dur, Habibie, Megawati dan SBY jelas mereka jadi presiden. Tapi buat petani dan buruh apa? Tidak ada. Buat Korban Orde Baru tidak ada upaya rehabilitasi nama mereka. Secara singkat reformasi gagal total.

Wawancara Media - AFP

Estudantes se decepcionam com Wahid
09h50 - 07/08/2000
ULITIMAS NOTICIAS

AFP


JACARTA, 7 Ago (AFP) - Decepcionado pela atuação do presidente Abdurrahman Wahid, o movimento estudantil indonésio o acusa de não fazer o suficiente para lutar contra a corrupção, apesar de ter conseguido reduzir o papel dos militares na vida política.

Mas os representantes estudantis asseguraram à AFP que ainda não é o momento de promover manifestações maciças, como aconteceu com o ex-presidente Suharto, em 1998.

Durante o encontro da instância legislativa mais importante do país, a Assembléia Consultiva do Povo, que deverá avaliar os nove meses de governo de Wahid, vários milhares de policiais foram mobilizados em Jacarta.

O primeiro presidente democraticamente eleito conseguiu reduzir a influência dos militares na vida política, segundo as lideranças estudantis, mas até o momento fracassou em suas tentativas de erradicar a corrupção.

"Gus Dur (sobrenombre de Wahid) não tenta instaurar a supremacia da lei de maneira séria. Prefere uma abordagem política" ao problema, explica Adian Napitupulu, um representante do grupo radical Forkot, e "não tem conseguido acabar com a corrupção, as intrigas e o nepotismo".

Napitupulu, conhecido por suas ações violentas contra Suharto, não pensa em lançar suas tropas contra o chefe de Estado por enquanto. "Só faremos protestos para pedir que Suharto seja julgado imediatamente", explica.

Nos últimos meses, os estudantes radicais organizaram dezenas de manifestações, por vezes caracterizadas por conflitos com a polícia, para exigir que o ex-presidente, acusado formalmente na quinta-feira por corrupção, seja julgado.

Mas as manifestações não conseguiram uma grande mobilização. Unidos antes contra Suharto, hoje os estudantee estão divididos. Já não têm um verdadeiro líder nem um inimigo a derrotar.

Wawancara Media - VHR

9 Tahun Reformasi


VOICE OF HUMAN RIGHT

.:: NEWS ::.

Author : Tri Wibowo Santoso
Mon, 21 May 2007 16:16:31 +0700

Buahnya Dinikmati Segelintir Elit

Waktu kadang tak terasa ketika sudah berlalu. Kini sembilan tahun sudah Indonesia bebas dari rezim otoriter Orde Baru. Era Reformasi yang awalnya memberi harapan untuk hidup dan kehidupan lebih baik di berbagai sektor hingga kini tak jua kunjung terwujud. Buah reformasi ternyata hanya dinikmati segelintir elit. Kekecewaan memuncak.

Hal inilah yang dirasakan Adian Napitupulu, salah seorang aktivis Forum Kota (Forkot). Adian yang turun ke jalan bersama rekan-rekannya sembilan tahun silam untuk menumbangkan Soeharto kini turut kecewa. Kepada Tri Wibowo Santoso dari VHR, pria kelahiran Medan menyampaikan buah pikirannya. Berikut petikannya:

Menurut Anda Apakah hasil reformasi selama sembilan tahun belakangan ini cukup memuaskan?

Memuaskan untuk siapa? Kalau buat Habibie, Megawati, Gus Dur bahkan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) jelas memuaskan. Tanpa gerakan 98, tanpa proses reformasi 98 mereka bermimpilah bisa menjadi presiden. Karena saat itu, Soeharto pernah bilang bahwa ia masih mau bertahan sampai tiga hingga empat periode lagi ke depan. Dan secara fisik, secara kesehatan, Soeharto memungkinkan untuk memimpin sampai saat ini. Artinya bahwa reformasi itu membawa arti banyak buat Megawati, Gus Dur, Habibie dan SBY, tapi buat rakyat nggak ada. Buat parlemen itu peluang emas yang mereka tidak bisa tinggalkan.

Kentungannya bagi para mantan presiden RI di era reformasi ini apa?

Sebenarnya mereka semua penikmat reformasi. Mereka lah yang mengambil keuntungan terbesar dari proses reformasi. Namun, sebenarnya tidak ada masalah, kalau kemudian mereka mendapatkan keuntungan tetapi mereka tahu tugas dan kewajiban tanggungjawabnya. Misalnya begini, mereka tahu dan sadar bahwa proses reformasi itu ada 1300 orang lebih yang meninggal. Kalau mereka mendapatkan posisi dan jabatan serta kewenangan serta kekuasaan dari proses itu, mereka punya kewajiban moral, kewajiban sejarah untuk menyelesaikan tragedi itu. Kalau itu tidak dilakukan, berarti mereka menghianati proses reformasi itu sendiri. Karena kalau mereka melihat kursi mereka, kursi mereka itu berlumuran darah rakyat, berlumuran darah kawan-kawan kita. Nggak boleh dong mereka lupakan!

Menurut Anda agenda reformasi 1998 seperti yang Anda perjuangkan dulu apakah sudah terealisasi?

Kalau kita pikir ya, ada pemanipulasian makna ya. Pemanipulasian makna terhadap ide-ide reformasinya. Misalnya kita minta cabut dwi fungsi ABRI, itu tidak sekedar memisahkan antara TNI dan POLRI. Fungsi politik dan fungsi social tentara. Tetapi lebih pada fungsi ekonominya yakni menutup bisnis-bisnis tentara. Bagaimana menempatkan tentara menjadi tentara yang professional, yang tangguh, yang fisiknya kuat, pintar menembak tetapi untuk pertahanan bangsa bukan untuk keamanan. Dan itu tidak terjadi. Lalu penuntasan kasus-kasus rakyat, Orde Baru ini kan meninggalkan ribuan kasus rakyat, baik itu kasus tanah, perburuhan, petani dan sebagainya. Dan itu tidak ada yang selesai. Baik kasus Kedung Ombo, Tanjung Priok tidak ada yang selesai.

Menurut Anda penyebabnya apa?

Sepertinya penyebab yang paling dominant adalah karena mereka bagian dari masa lalu. Kegagalan proses reformasi yang paling nyata adalah tidak terjadinya cleansing rezim. Harus dalam transisi reformasi, transisi dari rezim otoriter menuju rezim demokratis itu harusnya melalui tahapan cleansing rezim. cleansing rezim inikan bisa melalui tahapan beberapa pola, ada yang keras dan ada yang soft. Kita yang keras tidak berani dan yang soft juga tidak dilakukan, tiba-tiba Pemilu 1999 yang justru memberikan legitimasi pada kekuasaan-kekuasaan lama untuk masuk lagi pada lingkaran kekuasaan dan memiliki kewenangan dan jabatan politik untuk melindungi perbuatan-perbuatannya di masa lalu dan mempertahankan posisinya sampai saat ini.

Ada usulan dari beberapa aktivis mengenai pemotongan satu generasi, apakah Anda sepakat?

Memang harusnya sudah seperti itu ya. Artinya, kita tidak akan pernah bisa melakukan pembaharuan ke depan ketika yang berkuasa di lingkaran kekuasaan itu tetap orang-orang lama. Memotong satu generasi ini merupakan salah satu alternative, misalnya begini bagaimana kemudian anggota DPR itu maksimal 40 tahun, kemudian ada pembatasan, mereka yang pernah menjadi anggota DPR di era Orde Baru tidak boleh lagi menjadi anggota parlemen dan menteri dan sebagainya hak politiknya harus dicabut. Karena apa? Karena mereak harus bertanggungjawab terhadap kesalahan-kesalahan dimasa lalu. Ngapain kalau kita kasih kesempatan kepada orang yang pernah gagal!

Lalu mengenai kawan-kawan 98 yang saat ini berkecimpung di dunia politik praktis bahakn ada yang dekat dengan penguasa. Bagaimana Anda menanggapi?

Kalau kita melihatnya itu hak politik mereka. Tetapi bahwa kalau mereka tetap setia pada komitment dan cita-cita awal, suatu ketika cepat atau lambat kita akan menuntutnya bersama-sama komitmen itu untuk segera direalisasikan. Artinya bahwa pembicaraan kita maupun komitment kita dikalangan aktivis 98, kita harus merebut kekuasaan. Kalau kita bertanggungjawab terhadap ide-ide kita, kalau kita bertanggung jawab terhadap korban yang sudah jatuh dalam proses reformasi kemarin, dan bertanggungjawab pada masa depan bangsa ini, maka kita harus merebut kekuasaan.

Kalau Anda sendiri sekarang ini melakukan kegiatan apa setelah tidak lagi menjadi aktivis mahasiswa?

Kalau aku dan beberapa kawan-kawan di Forum Kota mendirikan lembaga hukum untuk masyarakat yang tertindas. Karena menurutku itu merupakan bagian dari perjuangan, ketimbang bermain politik praktis yang dimana masih didominasi oleh orang-orang Orde Baru.

Sepertinya yang lebih aktif dalam memikirkan bangsa ini adalah adalah aktivis post student. Sementara gerakan mahasiswa saat ini kian melemah. Sebenarnya menurut Anda apa penyebabnya?

Aku tidak pesimis ya denga gerakan mahasiswa saat ini. Kita bisa membandingkan gerkan mahasiswa sebelum 98 dengan gerakan mahasiswa 2007 sekarang ini jumlah aktivisnya itu lebih banyak yang sekarang dibandingkan dengan yang dulu. Persoalannya, hanya dibedakan ditingkat militansi dan radikalisasi ide dan pemikirannya saja yang berbeda. Kalau jumlahnya lebih banyak sekarang aktivisnya, tetapi proses yang mereka lewati tidak melaui uji militansi dan radikalisasi. Tapi kalau kawan-kawan pra 98 kan melewati itu walaupun jumlahnya sedikit. Sepertinya mereka aktivis sekarang ini harus belajar kepada senior-seniornya dahulu. Jangan gelar aktivis hanya dijadikan style dong! Aktivis sekarang juga harus melakukan konsolidasi besar-besaran. (E1)

Some student groups say they still believe that they do represent a moral force for reform. One of the first major student groups established in the heady early months of 1998, the trailblazing Forkot, or City Forum, movement says that being a moral force is its mantra. Bringing together street toughs from 28 colleges in Jakarta, Forkot says that it is neutral over whether Wahid should go or stay. Its members are not so detached about other issues such as the Suharto family. Forkot's rock-throwing demonstrations against Suharto and the former ruling Golkar party have alienated communities wary of being venues for street fights.

With the trademark toothless grin of battle-hardened protesters, Forkot spokesman Adian Napitupulu is unapologetic about the group's firebrand reputation. "A blind and deaf regime can be fought only with blood and tears, not words," says Napitupulu, 28. He blames police brutality for the group's reputation for readily hurling Molotov cocktails. Clashes with police in November 1999 sent more than 100 students to the hospital. "We became violent from clashing with police," explains Napitupulu, illustrating battle-lines and strategy with matches and looking more like a general than an activist. Student violence is seen within Forkot as purely a matter of self-defence. Members say they realized police often attacked only after protesters grew tired and could offer little resistance, so now Forkot attacks first to minimize its casualties. Nonconformity is of course strong among these rag-tag misfits. In their graffiti-splattered meeting place in Jakarta, its entry marked by a banner proclaiming "People's Court," four dozen Forkot members cheer and applaud when they hear themselves described as "radicals." But student groups who have split from Forkot -- and there are several criticize its uncompromising approach. Says activist Jimmy: "Forkot remains a protest group and has not pursued its potential as a bigger force." It was constant suspicion about under-the-table pay-offs from politicians that finally broke the students' solidarity in 1998. But Napitupulu, who claims to be homeless, calls such accusations ludicrous -- as do other student leaders.