Me and My self

Biografi saya

Adian Yunus Yusak Napitupulu, SH adalah putera ketiga dari 4 putera pasangan Ishak Parluhutan Napitupulu, SH dan Soeparti Esther. Ayahnya adalah pegawai negeri sipil yang sempat menjabat sebagai Kepala Kejaksaaan Negeri di Kotamobagu (Sulawesi Utara), Barabai (Kalimantan Selatan), Kupang (Nusa Tenggara Timur) dan terakhir menjabat di Kejaksaan Agung RI sebelum pada akhirnya meninggal dunia pada saat Adian baru berusia 10 tahun.

Aktivitas pergerakan Adian dimulai pada akhir tahun 1991 ketika ia bekerja menjadi buruh dengan upah Rp 3.000 / hari di pabrik kayu di Total Group di kawasan Industri Marunda. Setelah ditangkap pukul 2 pagi dan di tahan di Polsek Cilincing Jakarta Utara dan dinterogasi terkait keterlibatannya dalam 5 kali Demontrasi dan pemogokan di Pabrik, Adian kemudian diberhentikan dengan tidak hormat.

Tahun 1992 Adian mendaftarkan diri dan diterima menjadi anggota Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Cabang Jakarta. Dua tahun Berikutnya Adian beserta 4 orang kawannya membentuk Kelompok Diskusi Prodeo di sebuah rumah petak ukuran 4 x 8 meter di daerah Kramat Jati. Kelompok Diskusi ini dibiayai dari oleh 3 Supir dan 6 Kondektur bis PPD dari Depo H Simpang Hek Jakarta Timur.

Saat terlibat aksi Solidaritas di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dalam kasus Sri Bintang Pamungkas yang terkait Demonstrasi anti Soeharto di Dressden, Jerman, Adian kembali ditangkap dan di interogasi di Polres Jakarta Pusat.

Pada tahun 1996 saat Adian bersiap menyelesaikan kuliahnya dan sedang menyusun Skripsi, ia justeru mengorganisir Petani sawangan dan bergabung dalam Posko Pemuda - Mahasiswa yang menjadi satu-satunya Posko Non Anggota PDI dengan wilayah kerja menggalang dukungan solidaritas Rakyat terhadap Megawati Soekarno Putri. Ketika kantor DPP PDI diserbu aparat dan pendukung Suryadi pada tanggal 27 Juli 1996, Adian menggalang perlawanan bersama dengan kawan-kawan mahasiswa Fakultas Hukum UKI yang terlibat bentrokan dengan aparat sejak pukul 10 pagi hingga pukul 20 WIB. Sejak hari itu kampus FH-UKI menjadi salah satu konsentrasi sweeping Aparat Militer.

Bersama sekitar 15 orang kawan dari kampus UKI, UNTAG dan APP, Adian bersembunyi di sebuah rumah di Jakarta selatan. Dua minggu kemudian kelima belas aktivis itu dipecah tiga, Adian bersama 4 orang bersembunyi di daerah Bekasi. Setelah 1 minggu bertahan di Belasi, Adian bersama kawan-kawannya leri bersembunyi di sebuah gunung di wilayah Jawa Barat.

Awal Oktober 1996 Adian kembali berkumpul dengan kawan-kawannya dan mengumpulkan aktivis-aktivis Jakarta yang tercerai berai untuk mulai menggalang kembali Demonstrasi Solidaritas terhadap penyerbuan kantor DPP PDI. Demontrasi pertama dilakukan pada tanggal 28 oktober 1996 di Gedung Sumpah Pemuda. Untuk ketiga kalinya Adian ditangkap dan diinterogasi di Polres Jakarta Pusat.

Akhir 1996 Adian bersama kawan-kawannya membentuk Lembaga Bantuan Hukum Nusantara Jakarta dan mulai terlibat melakukan pendampingan dan pengorganisasian terhadap Korban SUTET di desa Cibentang, Parung Jawa Barat. Saat selesai mendampingi warga dalam salah satu aksi SUTET ke kantor PBB di Jalan Sudirman menjelang Pemilu 1997, Adian bersama kawan-kawannya berniat menonton Sepak Bola di GOR Senayan kemudian terlibat pertengkaran dengan Aparat militer. Sekitar 60 menit Adian di interogasi, pukuli, di rotan dan ditendang bergantian di jalan umum oleh sekitar 6 orang Aparat Militer bersenjata sebelum akhirnya dilepas dengan bibir pecah dan beberapa bekas tendangan di dada dan tiga luka di wajah.

Penganiayaan terhadap Adian yang saat itu sudah menjadi Sekretaris Eksekutif LBHN Jakarta kembali berulang di saat kampanye terakhir Golkar ketika Pemilu 1997. Bermula dari penolakan Adian terhadap paksaan massa Golkar untuk menujukan jari tengah dan telunjuk (No 2 / Golkar), Adian kemudian di pukuli di atas bis kota PPD 46 lalu ditarik paksa turun dari bis dan dikeroyok ditengah jalan oleh belasan Anggota Golkar di daerah Cawang Atas Jakarta Timur. Beberapa minggu dari peristiwa itu, Desmon J Mahesa, Direktur Eksekutif LBHN Jakarta, hilang di Culik. Melihat situasi tersebut, maka Adian memutuskan untuk tidak lagi berkantor. Seluruh perlatan Administratif berada dalam satu tas besar yang selalu siap dibawa berpindah-pindah.

Akhir 1997 situasi ekonomi negara mulai memburuk, para aktivis yang tercerai berai tampak mulai berdatangan satu-persatu ke Jakarta. Komunikasi mulai dijalin kembali, pertemuan menjadi semakin intensif. Adian mulai menghubungi beberapa kawan-kawan untuk membuat pertemuan aktivis-aktivis kampus. Sebagian besar merasa Pesimis tentang Ide tersebut, beberapa yang lain tetap Optimis. Tetapi pada akhirnya, sekitar bulan Januari 2007 pertemuan pertama bisa dilakukan di kampus ISTN dengan dihadiri oleh perwakilan 6 kampus, yaitu UKI, ISTN, APP, ABA-ABI, Univ Kertanegara dan Unija. Pertemuan pertama itu menjadi Embrio lahirnya Komunitas Mahasiswa Se Jabotabek atau FORKOT.Pertemuan kedua IAIN, IKIP, UNAS bergabung. Dari pertemuan ke pertemuan, jumlah kampus semakin banyak. Setiap pertemuan selalu mengagedakankan aksi yang tersebar di berbagai titik dengan massa yang mulai membesar. Intensitas pertemuan menjadi semakin Tinggi, jumlah massa semakin membesar hingga mulai di coba pada aksi yang lebih terorganisir dan terukur, antara lain, Aksi keluar dari kampus, aksi di satu titik (UKI Cawang), lalu aksi di 6 titik, hingga aksi bentrokan dan terakhir pendudukan DPR-MPR.

Rabu, 02 Januari 2008

AKSI MOGOK MAKAN

PERNYATAAN SIKAP

AKSI MOGOK MAKAN 10 TAHUN REFORMASI

Reformasi sudah berlangsung genap sepuluh tahun. Dalam sepuluh tahun, Indonesia telah lakukan dua kali pemilihan umum, Indonesia sudah punya empat Presiden, Indonesia melantik dan mengambil sumpah ribuan anggota Parlemen dan ratusan Menteri, puluhan institusi dan komisi baru dibentuk, ratusan Pilkada sudah dilakukan, UUD sudah di Amandemen, Ratusan Partai baru didirikan, ratusan peraturan perundang-undangan di sahkan, Propinsi dan Kabupaten baru di mekarkan.

Disisi lain, Walau sudah ternyata kehidupan Rakyat tidak menjadi lebih baik. Kemiskinan terus bertambah, pengangguran meningkat. Tidak hanya itu, walau sudah ada Komisi Yudisial dan Komisi Konstitusi, Komisi Kepolisian, Komisi Hukum Nasional hingga Komisi Kejaksaan tapi Penegakan hukum ternyata jauh dari yang diharapkan, Walau sudah ada Komisi Pemberatasan Korupsi dan Timtastipikor namun Pemberantasan Korupsi tetap pilih kasih dan tebang pilih, Walau sudah ada Komisi Nasional Hak Azas Manusia tetapi Pelanggaran HAM yang lama tak pernah mampu dituntaskan sementara pelanggaran HAM baru terus terjadi. Walau sudah dibentuk Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), tapi Tenaga kerja Indonesia tidak ubahnya budak diberbagai negara yang setrika, diperkosa, disiksa dan dibunuh diberbagai negara tanpa mampu dilindungi haknya sebagai warga negara Indonesia yang sah.

Demokrasi sebagai esensi dari Reformasi ternyata seperti panggang jauh dari api. Rakyat tetap menjadi komoditi dan objek kekuasaan yang ditipu setiap pemilu dan dilupakan segera setelah kekuasaan baru disahkan.

Sepuluh tahun sudah cukup bagi kita untuk mencapai kesadaran bahwa Reformasi sudah Mati, sehari ketika dia lahir.

TAHAP KEGAGALAN REFORMASI

(Sebuah Refleksi)

Proses kegagalan Reformasi adalah peristiwa yang mahal yang memberi kita keharusan untuk mampu memetik pembelajaran dari proses itu, atau proses yang memakan biaya, waktu, energi dan korban lebih dari 3.000 jiwa akan menjadi kesia-siaan belaka. Bila dirunut dari mana dimulai kegagalan Refor masi dalam tahapan peristiwa maka kita bisa membaginya dalam beberapa peristiswa besar, yaitu:

1. Gagalnya Pendudukan Istana Negara pada tanggal 20 Mei 1998.

Seruan Amien Rais pada tanggal 19 Mei 1998 untuk menduduki Istana Negara pada satu sisi terlihat Heroik tetapi dalam kenyataan nya seruan itu justeru memberi kesempatan pada Soeharto dan Militer agar memperkuat penjagaan di Istana, sehingga puluhan ribu massa Mahasiswa yang telah siap mengepung Istana terpaksa mengagalkan agenda tersebut karena penjagaan yang luar biasa ketatnya (catatan : Tanggal 18 Mei pk 18 WIB, Mahasiswa dari Forum Kota yang pertama kali masuk ke Gedung DPR meningggalkan Gedung DPR untuk mmempersiapkan pendudukan Istana Negara. Massa Forum Kota digantikan Massa dari FKSMJ dan berbagai organisasi mahasiswa lainnya). Tidak lebih dari 28 Jam, Amien Rais kemudian membatalkan pernyataannya sementara Mahasiswa sudah terlanjur tidak bisa mendekat ke Istana Negara. Upaya keras Rakyat dengan Mahasiswa di garda depan untuk menyelesaikan Reformasi total dalam dua tahap awal yaitu menduduki Simbol kedaulatan Rakyat (DPR) dan menduduki simbol kekuasaan (Istana Negara) hanya berhasil sebagian yaitu menduduki DPR. Pernyataan Amien Rais merupakan Anti Klimaks dari upaya melaksanakan Reformasi Total. Kegagalam Pendudukan Istana kemudian memberi ruang bagi Elit-elit Politik Orde Baru berkonsolidasi dan membuat skenario pergantian kekuasaan dari Soeharto ke Habibie berjalan lancar.

2. Deklarasi Ciganjur, 10 November 1998

Gus Dur, Amien Rais, Sultan Hamengku Buwono dan Megawati Soekarno Putri diprakarsai FKSMJ membuat Pertemuan Ciganjur dan menghasilkan Deklarasi Ciganjur. Tidak sampai 6 jam setelah Deklarasi Ciganjur ditandatangani, Ribuan Mahasiswa yang aksi di Manggala Wanabhakti kembali direpresi oleh Aparat Kepolisian dan Militer. Deklarasi Ciganjur menjadi ruang kompromi elit bersama dengan gerbongnya masing-masing dan merupakan perdamaian “informal” pertama antara Orde Baru dan elit yang “Pro” Reformasi. Deklarasi Ciganjur juga merupakan momentum “perampasan” hak perubahan dari tangan Rakyat ke tangan elit politik.

3. Sidang Istimewa 10 - 13 November 1998

Sidang Istimewa merupakan tahap ke tiga Kegagalan Reformasi. Sidang Istimewa kemudian menjadi ruang kompromi legal para elit politik melalui antek-anteknya di Parlemen untuk Memastikan tidak adanya Cleansing Regime Orde Baru. Berikutnya Sidang Istimewa menjadi ajang pembagian kenikmatan para elit politik yang sudah berdamai menuju kompromi nasional melalui Pemilu 1999.

4. Pemilihan Umum 7 Juni 1999.

Pemilihan Umum 1999 menjadi momentum besar kemandegan Reformasi. Berbagai elit Politik berpesta pora untuk memperebutkan kekuasaan dengan mendirikan lebih dari 40 Partai sebagai gerbong untuk membuat kompromi politik secara Nasional. Melalui berbagai Partai Politik ini, para elit Politik Orde Baru menyebar dan berada disemua Partai. Berikutnya sudah bisa di duga bahwa Reformasi telah kehilangan arahnya secara sempurna. Sesaat setelah hasil Pemilu disahkan maka Rakyat tidak lagi dibutuhkan selain sebagai pembayar pajak saja. Begitu juga para Mahasiswa sebagai garda terdepan Reformasi telah kehilangan momentumnya.

5. Sidang Umum 14 – 21 Oktober 1999.

Berbagai manuver politik dari beragam Elit Politik mewarnai sidang umum 1999 dengan satu tujuan yang sama, Kekuasaan! Gus Dur dan Megawati kehilangan kemesraannya ketika beberapa partai politik di Parlemen melalui Poros Tengah membuat manuver Memilih Gus Dur sebagai Presiden dan Pemenang Pemilu, yaitu PDIP dalam hal ini Megawati menjadi Wakil Presiden. Sejak awal ketika duet Dus Dur dan Megawati disahkan menjadi Presiden dan Wakil Presiden maka sejak itu sudah bisa diprediksikan bahwa keduanya tidak akan bertahan lama.

6. Sidang Istimewa 1 Agustus 2001

Tidak sampai tiga tahun, Gus dipaksa oleh mereka yang mengangkatnya untuk segera turun dan digantikan oleh Megawati. Seketika ketika Dus Gur dilengserkan oleh MPR dan Digantikan oleh Megawati maka era kepemimpinan sipil pasca 1998 telah selesai. Berikutnya Megawati sudah bisa dipastikan hanya akan menjadi Presiden sampai akhir sisa periode Gus Dur sampai 2004.

7. Pemilihan umum 2004

Pemilu 2004 merupakan media legal dan “demokratis” untuk kembalinya Rezim Militer ke tampuk kekuasaan negara. Partai Demokrat yang didirikan pada 9 September 2001 (38 hari setelah lengsernya Gus Dur) dan barus disahkan pada tanggal 23 Agustus 2003 (tidak sampai 13 bulan atau 392 hari sebelum Pemilu) secara ajaib bisa menaikan ketua Umumnya, Jenderal (purn) Soesilo Bambang Yudhoyono menjadi Presiden pada tanggal 20 September 2004. Keajaiban itu menunjukan bagaimana kerja dan kekuatan mesin politik di balik Partai Demokrat.

Dalam 10 tahun perjalanan panjang Reformasi, hasil akhirnya telah diketahui bahwa satu hari setelah Lengsernya Soeharto bahwa Reformasi PASTI GAGAL! Luar biasa, 3 Presiden sipil jatuh bergantian dalam 5 tahun dan 1 presiden berasal dari Militer bisa bertahan 5 tahun. Supremasi Sipil tetap menjadi mimpi bagi seluruh pejuang Demokrasi. Cepat atau lambat tapi pasti, satu persatu ruang kebebasan itu akan kembali dirampas untuk stabilitas kekuasaan, stabilitas kekayaan, stabilitas, kenikmatan…. Persis sama ketika 33 tahun Soeharto dan Orde Baru nya berkuasa.



Selamat tinggal Reformasi!

Jakarta 02 Januari 2008


Adian Napitupulu, SH

5 komentar:

Anonim mengatakan...

yan,
kayaknya tanggal 02 januari 2004 kok gak tepat.
karena di situ ada analisa pemilu 204 yang bulan oktober.
bener/gak sih?

salam perjuangan,
atmo

Anonim mengatakan...

Salam dr org Malaysia.

Kamu ada sejarah perjuangan anak2 muda mahasiswa Trisakti zaman Reformasi Indonesia?

http://zainulfaqar.wordpress.com

rhany7201 mengatakan...

Makasih ya dian...uda kasih alamat blogg dian ke rhany....senang bisa kenal n tau dian....!

Anonim mengatakan...

Saya agak keberatan jika Deklarasi Ciganjur dianggap sebagai perdamaian antara kaum orba dan reformis. Justru tanpa deklarasi ciganjur, tidak akan ada konsolidasi sipil. Ini sebenarnya persoalan jealous aja, karena adian tidak pegang kendali atas peristiwa itu. Terima kasih.

Anonim mengatakan...

Komentar Bung A Historis. Sesungguhnya Kejatuhan Soeharto menjadi bukti otentik bahwa konsolidasi sipil sudah terjadi jauh hari sebelum deklarasi ciganjur. Deklarasi Ciganjur bukan konsolidasi sipil tapi konsolidasi elit politik tua yang tidak rela tergusur dari panggung politik dan digantikan kaum muda. Hal itu dibuktikan sejarah 14 tahun kemudian hingga hari ini para deklarator Ciganjur tetap menjadi aktor politik (Gus Dus dan Mega menjadi Presiden, amin rasis menjadi ketua mpr) dan kaum muda yg berkeringat, berdarah, terluka ternyata tergeser dari panggung politik dari sejarah yg mereka ukir.
Saya menyadari apa yang disampaikan Aldian beberapa tahun lalau ternyata terbukti benar saat ini.

Aktivis 98 eks FKSMJ