HARI ITU TANGGAL DUA PULUH TUJUH
Sekitar 12 hari isu bahwa DPP PDIP akan diserbu membuat kami semakin tegang. Tiap malam dari tempat kumpul diberangkatkan minimal 3 orang untuk melihat kondisi kawan-kawan yang stand by di Posko Pemuda dan Mahasiswa. Bagaimanapun juga ada kawan-kawan yang pasang badan setiap hari 24 jam di Posko. Robert, mahasiswa Untag koordinator posko, terlihat makin kuyu dan letih. Untungnya kawan Robert punya selera humor yang tinggi hingga dia bisa bertahan.
Pada hari-hari pertama mendengar bahwa DPP PDI akan diserbu, kawan-kawan terlihat sangat bersemangat, semua berangkat ke DPP. Tetapi masuk pada hari ke lima dan seterusnya dan penyerbuan itu tidak terjadi, terlihat semangat kawan-kawan semakin mengendur, Masuk hari ke tujuh dan delapan, sebagian kawan-kawan justeru sudah mulai ragu apakah akan terjadi penyerbuan. Setelah masuk hari ke sepuluh, beberapa kawan-kawan mulai tidak tertib, sebagian pulang kerumah.
Hari-hari ku dihabiskan dengan kegiatan rutin, Datang ke Posko lalu kembali lagi ke base camp, lalu ambil Screen, Rakel, tinta dan kertas-kertas Sticker kemudian mulai menyablon. Sementara itu beberapa kawan mengeringkan sticker dan mulai memotong-motong agar sisi kiri kanan atas bawah simetris. Maklumlah, kertas sticker yang dipakai adalah kertas sticker bekas yang kami beli bukan lembaran tapi kiloan. Selama lebih dari 3 minggu Dari Base Camp itu kami mencetak ribuan hingga belasan ribu Sticker beraneka ragam. Ada Sticker bertulisan “WE LOVE MEGAWATI” berwarna Pink dan Merah. Ada juga Sticker atas nama ALMADEA (Aliansi Mahasiswa Pro Demokrasi) yang di cetak di atas kertas berwarna silver. Ada juga Sticker atas nama Banteng Muda Indonesia, serta ribuan yang tanpa nama namun hanya berisi kata-kata yang mendukung Megawati.
Malam sekitar pukul 21, biasanya aku bersama 6 atau 8 orang keluar dari base camp sambil membawa 300 an sticker dan mulai menempelkan sticker itu di Bis, Tiang Listrik, Halte dan sebagainya. Yang seru adalah ketika kami menempelkan sticker-sticker itu di ratusan mobil yang parkir sepanjang tempat hiburan malam di Blok M. He he he aku tidak bisa bayangkan bagaimana kesalnya para pemilik mobil itu ketika esok paginya ia melihat ada Sticker “We Love Megawati” di kaca belakang. Tiap kali menempelkan Sticker, aku selalu berucap dalam hati, “Maaf ya Pak!”
Ada Satu peristiwa mendebarkan, ketika aku sedang menempelkan Sticker, aku di hampiri laki-laki yang bertato dan berbadan besar, sepertinya dia yang punya mobil hard top itu. Wah aku sudah gak mungkin sembunyi apa lagi lari, bisa-bisa diteriakin maling. Mau tidak mau ya aku bersandar saja di samping mobil itu, sambil berucap dalam hati “yang terjadi ya terjadilah” sembari mata ku melihat ke kiri kanan mencari peluang kabur jika terpaksa. Aku juga berfikir keras, “laki-laki itu preman, polisi atau apa? Kalo Polisi berapa lama aku akan ditahan karena selembar Sticker itu?” Belum habis berfikir, laki-laki itu sudah di samping ku, matanya dipicingkan membaca sticker ukuran 10 x 10 cm dengan tulisan “WE LOVE MEGAWATI” itu. Suasana menjadi hening. Laki-laki itu diam, lalu menengok ke arah ku dan dengan suara berat, ia bertanya “elu yang tempel sticker ini?” Aku mendongak ke atas, maklum tinggi ku hanya sebatas ketiaknya. Entah bergetar, entah tegas, aku jawab, “Iya!” Laki-laki itu diam lagi…. Beberapa saat kemudian dia bicara lagi, “Masih ada? Bagi dong?” Tanpa perdebatan, aku kasih sekitar 15 an sticker yang tersisa sembari berucap pelan “merdeka!” dan aku ngeloyor pergi.
27 Juli pukul 02 WIB, ada berita via Pager bahwa ada indikasi DPP akan diserbu malam ini. Sebagian kawan-kawan saat itu sedang main kartu seven clever. Ada yang percaya dan ada juga yang katakan “Aaah paling-paling seperti kemarin” beberapa yang lain justeru taruhan apakah akan ada penyerbuan atau tidak? Sekitar pukul 03, masuk lagi pesan ke Pager “Dipastikan tidak ada penyerbuan!” lalu pukul 05, pager kembali berbunyi, “DPP sudah diserbu!”
pukul 05.15 aku dengan satu orang kawan berangkat ke DPP. Sampai di depan Megaria kami sudah terhalang oleh barikade ratusan aparat yang berlapis-lapis. Di beberapa titik terlihat ada kendaraan lapis baja. Dari dalam lingkaran barikade Aparat terdengar suara teriakan-teriakan, jeritan, sorak sorai dan kadang-kadang diselingi lagu Indonesia Raya yang timbul tenggelam. Sementara diluar Barikade ratusan orang yang terus membesar jumlahnya terlihat sudah berhadapan dengan Aparat yang bersiaga dengan beragam jenis senjata. Orang-orang mulai berteriak mengejek Aparat dengan caci maki, sumpah serapah dan sebagainya! Beberapa orang terlihat berorasi, ada juga yang terdiam sambil menangis.
Aku sempat bersandar di pagar besi Megaria, lalu duduk terdiam sekitar 3 menit. Dalam diriku berkecamuk beragam perasaan, mulai dari takut, geram, bigung, sedih semua campur aduk tidak karuan. Hatiku tidak berterima, dan berulang aku berucap kecil, “Ini tidak benar!…ini tidak benar!…. ini kejam,… jahat!” aku tertegun, bingung… dan tidak tahu mau berbuat apa. Kengerian seketika menyergap ku ketika aku berfikir, apa yang terlalu mahal untuk diperebutkan sehingga ratusan aparat harus dihadapkan pada Rakyat… kemudian membunuhi Rakyat. Bukankah sesungguhnya Rakyat haruslah mereka lindungi”. Dibalik perasaan itu, tontonan kekejaman didepan mata memberiku keyakinan berlipat-lipat bahwa sesungguhnya apa yang aku kerjakan membangun perlawanan Rakyat selama ini adalah BENAR se benar benarnya! Saat itu keraguan yang lahir dari dilema antara haruskah kita melawan pemerintah atau patuh, seketika itu hilang entah kemana. Akuk teringat sebuah tulisan yang mengatakan bahwa, di ujung ketakutan adalah keberanian!
Aku lalu berdiri dan bergabung dengan massa yang sudah membesar menjadi ribuan orang. Beberapa saat kemudian Rakyat mulai berinsiatif mengambil batu dan melempari Aparat. Sambil berbaur dengan massa aku kemudian berjalan ke arah belakang menuju kantor DPP PPP. Disitu juga sudah nampak kerumunan ratusan orang yang ternyata sudah saling melempari aparat dengan batu-batu. Sesaat kemudian aku terlibat dalam Intifadah itu. Untuk mencegah laju barisan pemukul aparat, aku dengan 3 orang warga kemudian mendorong sebuah gerobak berisi kertas koran dan kayu serta ranting-ranting pohon. Gerobak kemudian kami bakar lalu kami dorong ke arah Aparat yang sudah berbaris Maju. Rakyat bertepuk tangan dan maju bersama-sama. Tidak berapa lama kemudian terdengar rentetan tembakan. Massa lalu kocar-kacir, Aparat tiba-tiba keluar dari balik asap menyerang dan menyerbu Massa yang kocar-kacir. Aku mundur ke belakang bersama sekitar 10 an orang warga. Aparat menunjuk kami kemudian mengejar kami dengan cepat. Beberapa mengacungkan pistol. Tanpa pikir panjang kami berlari masuk gang-gang kecil di perkampungan warga. Sekitar 10 menit kemudian kami sadari bahwa jumlah kami tinggal bertiga dan Aparat juga sudah tidak lagi terlihat dibelakang kami. Aku duduk di jalan dan berusaha mengatur nafas. Dari samping ku muncul seorang ibu yang kemudian memberiku segelas air putih dingin. Ia kemudian menjelaskan arah paling singkat untuk ke jalan Raya. Aku lihat mimik ibu itu dan keberaniannya memberi kami air minum, dalam hati aku ucapkan “Luar biasa…. Ini benar-benar perlawanan Rakyat, semua bahu-membahu! Sempat terfikir di benakku, Kalau saja Mbak Mega ada dan melihat mimik wajah ibu itu, aku yakin dia akan pingsan, bukan karena takut atau kelelahan, tapi karena keharuan yang luar biasa!”
Setelah berjalan kaki sekitar 5 atau 10 menit, aku kaget ketika kaki ku menginjak batangan rel kereta dan didepan ku sudah ada rangkaian gerbong. Lho, berarti aku sudah sampai di stasiun Manggarai. Kami yang tinggal bertiga memutuskan untuk kembali lagi ke Megaria. Kami menyetop bis ke arah Pemadam Kebakaran di Jatinegara, dari situ kami naik PPD sampai di Lampu merah Salemba.
Perang batu terus berlangsung, suasana hiruk pikuk bersahutan dengan suara tembakan. Kami lari ke LBH Jakarta. Disana sudah ada puluhan aktivis yang terlihat lelah. Didepan pagar ada dua kawan Mahasiswi yang selama ini bersama kami di Posko. Mereka dilarang masuk oleh kawan-kawan di LBH, mungkin karena mereka tidak kenal. Melihat situasi yang semakin tidak jelas, maka aku lari ke gerbang dan membuka gerbang agar mereka masuk. Setelah didalam aku bertanya dimana kawan-kawan kita yang lain. Tetapi mereka juga tidak tahu. Setelah beristirahat sejenak, mereka memberi aku sebuah tas besar, yang ternyata berisi ribuan sticker yang kami buat selama ini.
Sticker aku titipkan pada seorang kawan di LBH. Aku dan dua Mahasiswi itu kemudian keluar dari LBH. Saat itu jalan Diponegoro sudah sangat lenggang. Tidak ada kendaraan lalu lalang. Massa Rakyat juga sudah tidak terlihat baik di Megaria maupun di sekitar Diponegoro. Yang tampak hanya Aparat berseragam dan kelompok-kelompok kecil orang yang kemungkinan adalah intel yang disebarkan. Perjalanan dari LBH hingga ke Pintu masuk Cipto terasa sangat lama walaupun jarak yang ditempuh tidak lebih dari 200 meter. Setiap melewati aparat aku merasakan tatapan mata mereka coba menelanjangi seluruh tubuh, sambil berjalan aku terus berucap “tenang…tenang..” dalam hati.
Sampai di pintu masuk RS Cipto, aku mendengar raungan sepeda motor. aku menengok kebelakang dan tampak sekitar 15 sepeda motor aparat menyisir jalan. Aku masih sempat melihat ada satu orang yang kemudian ditabrak salah satu motor itu. Selanjutnya aku masuk ke lorong-lorong di rumah sakit, melewati kamar mayat, tembus ke kampus kedokteran UI. Keluar dari UI aku melihat kumpulan massa dalam jumlah ribuan bertahan dan sedang terlibat perang batu dengan Aparat. Aku berbaur dengan massa dan berjalan kearah Jalan Paseban. Setelah masuk sekitar 200 meter di Jalan Paseban, aku melihat massa dari arah kampus UI berlarian kocar-kacir. Berikutnya aku mendengar beberapa kali suara tembakan, tidak lama kemudian raungan suara motor memenuhi jalanan. Aku masih berusaha tenang. Tidak lama kemudian di belakang pasukan motor itu tampak dua buah panser berdampingan melaju cepat kearah aku dan massa yang berlarian. Tanpa pikir panjang, aku menarik tangan dua mahasiswi itu dan kami berlari sekencang-kencangnya sampai mendapatkan gang, masuk gang dan terus lari sampai kami kelelahan. Setelah merasa aman, kami mulai berjalan lagi pelan-pelan menuju rumah salah seorang Senior pergerakan di daerah Rawasari. 30 menit kemudian aku sampai kerumah itu, duduk ngobrol sebentar cari tahu informasi… lalu naik kelantai dua dan tertidur sekitar 1 jam. Wah luar biasa peristiwa hari ini.
Pukul 03 WIB, aku sampai di base camp. Disana kawan-kawan sudah berkumpul dan saling bercerita kejadian yang dialami masing-masing selama 24 jam terakhir. Sambil bergantian bercerita kami juga saling bergantian memijat lengan kanan…. Ternyata semua kami ikut tawuran dan sekarang semua persendian lengan kanan terasa sakit. Entah berapa batu yang dilemparkan masing-masing.



2 komentar:
tulisan ini membuat saya sesak bernapas...mengenang yang pernah ada...
he...he..bung adian..ingat kan waktu rapat ditempat kos ku yg dikarawaci..ada si mamat juga..
Oh ych 27 Juli menjelang magrib saya juga ditangkap pas didepan pos polisi yg ada dibawah rel kereta api dekat megaria.
Sebelumnya kami sempat dikejar aparat hingga gang-gang kecil yg ada didaerah salemba..
yg masih teringat ketika api mulai membakar gedung yg saat ini menjadi kampus (kalau nga salah dulu bank), aparat saat itu langsung bilang, "Rakyat indonesia masih banyak, biarkan mereka mati."
Apa perjuangan orang yg berada di atas gedung..dia menyambungkan kain-kain gorden dan turun lewat sambungan tersebut, namun belum beberapa turun, kain gorden putus dan orangnya langsung terjun bebas. Tidak ada nyawa lagi ada bersentuhan dengan semen. Kejadian tsb didepan mata saya.
Oh yach saat ditangkap dan lagi antri diinterograsi, ternyata mukjizat datang..ada petugas berpakaian preman nanya saya..ternya dia satu kampung dengan saya..dia langsung menyuruh lari dan menjauh akhirnya bebas dan tidak ditahan.
Ok deh cerita sebenarnya masih panjang...
Posting Komentar